IAIN PONOROGOIAIN PONOROGO

Dialektika: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan PengajarannyaDialektika: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya

Komunikasi politik ulama di Indonesia menampilkan ragam wajah yang dipengaruhi oleh kultur, tradisi keagamaan, dan konstruksi sosial yang melingkupinya. Penelitian ini mengkaji perbedaan pola komunikasi politik antara ulama Jawa dan ulama Madura dalam panggung nasional selama periode pasca-reformasi (1998–2024) dengan menggunakan pendekatan kualitatif-komparatif berbasis sosiologi komunikasi dan politik Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama Jawa cenderung menampilkan komunikasi partisipatif-inklusif, memandang politik sebagai ruang dakwah sosial, sedangkan ulama Madura menampilkan komunikasi moralistik-protektif, menjaga jarak dari politik praktis untuk mempertahankan wibawa keagamaan. Perbedaan ini tidak bersifat personal, melainkan berakar pada faktor struktural: kultur lokal, pandangan teologis, dan pengalaman historis masing-masing tradisi.

Penelitian ini mengidentifikasi dua pola komunikasi politik ulama yang berbeda secara struktural namun saling melengkapi secara fungsional.Ulama Jawa menampilkan komunikasi partisipatif-inklusif dengan memandang politik sebagai madrasah sosial tempat nilai-nilai agama diterjemahkan ke dalam praksis kebangsaan, sedangkan ulama Madura menampilkan komunikasi moralistik-protektif dengan menjaga jarak dari politik praktis sebagai bentuk hirasah, yaitu penjagaan terhadap amanah spiritual umat.Perbedaan kedua pola ini berakar pada faktor struktural berupa kultur lokal, pandangan teologis, dan pengalaman historis.Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi politik ulama adalah komunikasi moral, bukan sekadar strategi pengaruh, dan kultur lokal bukan sekadar latar, melainkan struktur epistemologi komunikasi.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi etnografi digital ulama di ruang publik daring untuk memahami dinamika komunikasi mereka melalui media sosial. Selain itu, perlu dilakukan perbandingan ulama dari wilayah lain seperti Sumatra, Kalimantan, atau Sulawesi untuk melihat apakah pola komunikasi serupa atau berbeda tergantung konteks lokal. Terakhir, penting untuk mengkaji peran dan retorika politik ulama perempuan (nyai) yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam diskursus akademis, karena kontribusi mereka bisa memberikan perspektif baru tentang keberagaman dalam komunikasi politik keagamaan.

Read online
File size1017.54 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test