ALIMSPUBLISHINGALIMSPUBLISHING

JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMAJURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KEBUDAYAAN DAN AGAMA

Tradisi Becanang di beberapa kecamatan di lingkungan Kabupaten Aceh Tengah saat ini sudah tidak dipraktikkan lagi. Mempertahankan tradisi Becanang memerlukan upaya sadar dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi Becanang terkait dengan sejarah serta aturan-aturan yang berlaku dalam pelaksanaannya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pendekatan yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, di mana data yang terkumpul diinterpretasikan dan dianalisis menggunakan triangulasi, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Becanang telah ada sejak zaman Kerajaan Linge. Pada masa itu, Becanang berfungsi sebagai pentalu, atau pemanggil Sarakopat (bawahan kerajaan), dan juga ditampilkan saat menyambut tamu kehormatan. Saat ini, Becanang ditampilkan pada upacara pernikahan serta untuk menyambut tamu. Canang juga digunakan pada saat Jule bai (mengantar pengantin pria ke rumah pengantin wanita). Selanjutnya, Canang dimainkan oleh kaum perempuan selama kegiatan memasak sebelum hari mungerje (persiapan untuk resepsi pernikahan).

Tradisi Becanang adalah warisan sejak era Kerajaan Linge (awalnya berfungsi memanggil Sarakopat) yang kini dimainkan untuk menyambut tamu, menghibur ibu-ibu saat memasak persiapan pernikahan, dan mengiringi mempelai pria (Jule Bai).Meskipun mulai pudar akibat faktor internal dan eksternal, pelestariannya terus diupayakan dengan mewajibkan Becanang sehari sebelum pernikahan dan saat Jule Bai.Adapun pada prosesi Munenes (mengantar mempelai wanita), tradisi ini pantang untuk dimainkan.Pemerintah daerah dan aparatur desa diharapkan lebih proaktif mendorong masyarakat untuk terus menjalankan tradisi Becanang.Sinergi ini sangat krusial agar warisan budaya leluhur tidak punah, tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang, serta terhindar dari klaim pihak luar.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak penggunaan musik modern terhadap keberlanjutan tradisi Becanang, dengan membandingkan preferensi generasi muda dan tua. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi potensi pendokumentasian digital sebagai sarana pelestarian, seperti pembuatan video tutorial atau aplikasi interaktif untuk menyebarluaskan teknik permainan canang. Terakhir, studi tentang integrasi tradisi Becanang ke dalam kurikulum pendidikan lokal bisa menjadi arah penelitian baru, dengan mengevaluasi bagaimana pendidikan formal dapat memperkuat identitas budaya melalui praktik langsung oleh siswa.

  1. Memahami desain metode penelitian kualitatif | Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum. memahami desain... doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075Memahami desain metode penelitian kualitatif Humanika Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum memahami desain doi 10 21831 hum v21i1 38075
Read online
File size301.07 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test