BMKGBMKG

Jurnal Meteorologi dan GeofisikaJurnal Meteorologi dan Geofisika

Analisa spasial indek kekeringan di wilayah Kabupaten Indramayu dilakukan dengan menggunakan 13 pos hujan yang tersebar di wilayah Kabupaten Indramayu selama periode 30 tahun dari tahun 1980 hingga 2009. Penghitungan neraca air dilakukan dengan menggunakan metode Thornthwaite-Matter. Hasil analisa indek kekeringan menunjukkan bahwa wilayah kabupaten Indramayu mengalami kekeringan dimulai dari bulan April hingga November dengan tingkat kekeringan kategori berat mengalami puncaknya pada bulan September sebesar 86%. Dari analisa spasial indek kekeringan, pada bulan Juli hingga Oktober secara keseluruhan wilayah kabupaten Indramayu mengalami kekeringan tingkat berat. Wilayah di kabupaten Indramayu yang mengalami kekeringan lebih cepat terjadi di sekitar wilayah Bulak dan Losarang. Hasil penelitian ini menjadi rekomendasi dalam melakukan antisipasi dan mitigasi kekeringan di wilayah kabupaten Indramayu terkait Indramayu sebagai kabupaten penghasil padi terbesar pertama di Provinsi Jawa Barat.

Pola curah hujan di kabupaten Indramayu berdasarkan 13 data pos hujan menunjukkan bahwa pola curah hujan di kabupaten Indramayu adalah monsunal dengan curah hujan minimum terjadi pada bulan Agustus, September dan curah hujan maksimum terjadi pada bulan Januari.Daerah sekitar Bulak/pantai utara Indramayu bagian barat tingkat kekeringannya lebih cepat terjadi bila dibandingkan daerah lainnya.Hal ini dilihat dari jumlah curah hujan tahunannya paling rendah bila dibandingkan daerah lainnya yaitu 1222,7 mm/tahun dan dari analisa spasial curah hujan rata-rata bulanan di wilayah sekitar Bulak curah hujan pada bulan April berkisar 85mm - 110 mm.Dari analisa neraca air, berdasarkan data rata-rata selama 30 tahun dari tahun 1980-2009 secara wilayah Indramayu mengalami kekeringan dengan kategori berat dimulai dari bulan Juni, dengan puncak indek kekeringan terjadi pada bulan September sebesar 86%.

Penelitian lanjutan dapat menggabungkan pendekatan meteorologis dengan faktor agronomis untuk memahami dampak kekeringan terhadap produksi padi di Indramayu. Selain itu, perlu dilakukan studi tentang efektivitas teknik konservasi air seperti embung atau pompanisasi dalam mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan. Terakhir, penelitian dapat fokus pada pengembangan varietas padi tahan kering dan pola tanam adaptif untuk meningkatkan ketahanan pertanian di wilayah rawan kekeringan.

Read online
File size355.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test