UBMUBM

PsibernetikaPsibernetika

Perilaku seksual pranikah pada remaja akhir laki-laki di Indonesia cenderung meningkat dan menyebabkan berbagai dampak buruk. Salah satu cara untuk menghindari perilaku seksual pranikah adalah dengan adanya persepsi father involvement yang baik. Hal ini untuk melihat keterlibatan sosok ayah pada pola pengasuhan yang dapat memberikan gambaran tentang seksualitas pada remaja laki-laki tentang pentingnya pengetahuan seksual. Menjadi menarik juga, karena remaja laki-laki akan lebih banyak mencontoh sosok ayah sebagai orang yang akan dijadikan panutan untuk kehidupan pra-nikah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi father involvement dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir laki-laki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif berupa korelasi dengan menggunakan teknik analisis Pearson Product Moment. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Responden dalam penelitian ini berjumlah 230 orang yang merupakan remaja akhir laki-laki berusia 18-21 tahun, sedang berpacaran, dan masih memiliki ayah kandung. Pengumpulan data menggunakan modifikasi Skala Inventory of Father Involvement (α = .966) dan adaptasi Skala Perilaku Seksual Pranikah (α = .980). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi father involvement dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis korelasi yang menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -.180 yang berada pada kategori sangat lemah dan nilai signifikansi (p) sebesar .006.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara persepsi father involvement dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir laki-laki.Hal ini berarti semakin tinggi persepsi father involvement yang dirasakan oleh remaja akhir laki-laki, maka akan semakin rendah perilaku seksual pranikah pada remaja laki-laki.Begitupun sebaliknya, semakin rendah persepsi father involvement yang dirasakan oleh remaja akhir laki-laki, maka akan semakin tinggi perilaku seksual pranikah pada remaja akhir laki-laki.Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan antara father involvement dan perilaku seksual pranikah pada penelitian ini berada dalam kategori sedang.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang memengaruhi perilaku seksual pranikah, seperti pengaruh teman sebaya atau paparan media. Selain itu, penelitian bisa mencakup remaja perempuan untuk membandingkan perbedaan respons terhadap keterlibatan ayah. Penelitian juga dapat memperluas sampel ke wilayah lain di Indonesia agar hasil lebih representatif. Dengan menambah variabel seperti komunikasi orang tua dan kebijakan sekolah, penelitian bisa memberikan wawasan lebih dalam tentang strategi pencegahan perilaku seksual pranikah. Studi tentang peran ibu dalam pengasuhan juga bisa menjadi fokus penelitian lanjutan. Peneliti juga dapat mengevaluasi efektivitas program pendidikan seksual formal dan informal di sekolah. Penggunaan metode kualitatif seperti wawancara mendalam bisa memberikan pemahaman lebih tentang motivasi dan pengalaman remaja dalam menghadapi tekanan seksual. Penelitian juga bisa mempertimbangkan dampak teknologi digital terhadap perilaku seksual pranikah. Selain itu, penting untuk meneliti bagaimana budaya lokal memengaruhi persepsi dan praktik seksual remaja. Dengan pendekatan multidimensi ini, penelitian lanjutan diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih komprehensif untuk mengurangi risiko perilaku seksual pranikah.

  1. 0. loading doi.org/10.1542/peds.2011-20660 loading doi 10 1542 peds 2011 2066
  2. "Sikap Remaja terhadap Keperawanan dan Perilaku Seksual dalam Berpacara" by Desi Rusmiati and... doi.org/10.21109/kesmas.v10i1.815Sikap Remaja terhadap Keperawanan dan Perilaku Seksual dalam Berpacara by Desi Rusmiati and doi 10 21109 kesmas v10i1 815
Read online
File size258.19 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test