IJHPIJHP

International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)

Rawatan hemodialisis merupakan pilihan terapi pengganti ginjal bagi pasien gagal ginjal kronik (CKD). Meskipun hemodialisis dapat memperpanjang harapan hidup, komplikasi dan morbiditas tetap menjadi tantangan yang signifikan. Pasien hemodialisis memiliki tingkat rawat inap berulang yang tinggi, yang tidak hanya meningkatkan morbiditas dan mortalitas tetapi juga menimbulkan beban biaya kesehatan yang signifikan dan mengurangi kualitas hidup. Malnutrisi dan inflamasi adalah dua faktor penting yang mempengaruhi hasil klinis pada populasi ini. Sindrom kompleks malnutrisi-inflamasi (MICS) sering terjadi pada pasien hemodialisis dan diyakini sebagai penyebab utama resistensi eritropoietin, peningkatan rawat inap, dan mortalitas pada pasien dialisis.

Berdasarkan penelitian terhadap 121 pasien gagal ginjal kronik tahap 5 yang menjalani hemodialisis rutin, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara skor Controlling Nutritional Status (CONUT) dengan frekuensi rawat inap berulang.Pasien dengan skor CONUT yang lebih tinggi, yang mencerminkan status malnutrisi yang lebih parah, cenderung memiliki frekuensi rawat inap berulang yang lebih tinggi.Analisis menunjukkan bahwa skor CONUT memiliki koefisien korelasi 0,462 dengan nilai p 0,000, dan dalam analisis multivariat terbukti sebagai prediktor independen dengan rasio odds 1,619 (95% CI 1,287–2,036.Hal ini berarti setiap kenaikan satu poin pada skor CONUT meningkatkan risiko rawat inap berulang sebesar 61,9%.Selain itu, Sistemik Immune-Inflammation Index (SII) juga menunjukkan hubungan signifikan dengan rawat inap berulang.Nilai SII yang lebih tinggi, yang menunjukkan dominasi inflamasi sistemik, terkait dengan frekuensi rawat inap berulang yang lebih tinggi.Analisis menunjukkan koefisien korelasi 0,389 dengan nilai p 0,000.Dalam analisis multivariat, SII juga merupakan prediktor independen dengan rasio odds 1,097 (95% CI 1,041–1,156.p = 0,001), yang berarti setiap kenaikan 100 unit SII meningkatkan risiko rawat inap berulang sebesar 9,7%.Penelitian ini juga menemukan hubungan signifikan antara skor CONUT dan SII dengan koefisien korelasi 0,418 dan nilai p 0,000.Temuan ini mendukung konsep sindrom kompleks malnutrisi-inflamasi (MICS), di mana status malnutrisi yang buruk erat kaitannya dengan peningkatan inflamasi sistemik pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis.Kedua kondisi ini saling memperburuk, membentuk siklus patologis yang meningkatkan risiko komplikasi dan rawat inap berulang.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi prospektif kohort yang lebih besar dan melibatkan beberapa pusat kesehatan untuk memastikan generalisasi model. Selain itu, studi intervensi diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas manajemen berdasarkan skor CONUT dan SII dalam mengurangi rawat inap berulang. Penelitian juga dapat fokus pada evaluasi hubungan kausal antara skor CONUT, SII, dan rawat inap berulang, serta mengeksplorasi strategi intervensi yang efektif untuk mencegah rawat inap berulang pada pasien hemodialisis.

  1. Normality Tests for Statistical Analysis: A Guide for Non-Statisticians. normality tests statistical... doi.org/10.5812/ijem.3505Normality Tests for Statistical Analysis A Guide for Non Statisticians normality tests statistical doi 10 5812 ijem 3505
  2. Are there two types of malnutrition in chronic renal failure? Evidence for relationships between malnutrition,... academic.oup.com/ndt/article/15/7/953/1810799Are there two types of malnutrition in chronic renal failure Evidence for relationships between malnutrition academic oup ndt article 15 7 953 1810799
  3. Applied Logistic Regression | Wiley Series in Probability and Statistics. applied logistic regression... doi.org/10.1002/9781118548387Applied Logistic Regression Wiley Series in Probability and Statistics applied logistic regression doi 10 1002 9781118548387
Read online
File size454.84 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test