UNJAUNJA

Langue (Journal of Language and Education)Langue (Journal of Language and Education)

Kemunculan wacana politik pasca-Barat menimbulkan teka-teki retorika yang signifikan: bagaimana pemimpin nasionalis menunjukkan kekuatan soverign sambil tetap mematuhi norma multilateral institusi seperti PBB? Artikel ini menyelidiki dilema soverignist melalui studi kasus pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB 2025. Meskipun penelitian sebelumnya menggunakan Teori SFL telah menganalisis sistem Penilaian secara terpisah, studi ini berargumen bahwa fragmentasi ini melewatkan unit fungsi retorika politik. Dengan metode ko-instantiasi, kami memetakan penggabungan sumber evaluatif dalam pidato (N=335). Temuan menunjukkan dominasi trialektik retorika yang terdiri dari Sikap: Penilaian (26,9%), Partisipasi: Kontraksi (23,9%), dan Graduasi: Kekuatan (21,5%). Kami berargumen bahwa konfigurasi ini menciptakan sikap soverignisme moral, di mana pembicara mengadaptasi bahasa moral global untuk membenarkan agenda nasionalis. Dengan merangkul kekuatan nasional bukan sebagai ancaman terhadap multilateralisme tetapi sebagai satu-satunya kendaraan untuk mencapainya, pidato ini menyelesaikan kontradiksi ideologis. Studi ini berkontribusi pada protokol metodologis yang dapat diulang untuk menganalisis sifat tergabung dari sikap politik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kontradiksi antara kekuatan nasionalis dan norma multilateral dapat diselesaikan melalui strategi retorika yang terintegrasi.Pemimpin seperti Prabowo Subianto menggunakan pendekatan soverignisme moral untuk menggabungkan nilai-nilai global dengan agenda nasional.Temuan ini menekankan pentingnya analisis ko-instantiasi dalam memahami dinamika retorika politik.Selain itu, penelitian ini membuka jalan untuk studi lebih lanjut tentang peran bahasa dalam membentuk identitas nasional di forum internasional.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji perbedaan strategi retorika Prabowo Subianto antara pidato domestik dan internasional untuk memahami apakah pola (J F C) merupakan ciri khas gaya politiknya atau hanya untuk situasi khusus. Selain itu, studi komparatif perlu dilakukan untuk mengevaluasi apakah konsep soverignisme moral dapat diterapkan pada pemimpin nasionalis lain di forum yang sama, sehingga memperkaya metodologi analisis retorika politik. Terakhir, penelitian dapat fokus pada dampak nyata dari pendekatan soverignisme moral terhadap kebijakan internasional, dengan menggabungkan analisis linguistik dan studi kasus kebijakan yang diterapkan.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/s10936-023-09988-7Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 s10936 023 09988 7
  2. Appraisal and Party Positioning in Parliamentary Debates: A Usage-Based Critical Discourse Analysis |... ccsenet.org/journal/index.php/ijel/article/view/0/43877Appraisal and Party Positioning in Parliamentary Debates A Usage Based Critical Discourse Analysis ccsenet journal index php ijel article view 0 43877
  3. 0. pdf obj endobj filter flatedecode index length prev root size type xref bbd ln d6 ff3 endstream startxref... pdf.erytis.com/llcs/LLCS.9067.pdf0 pdf obj endobj filter flatedecode index length prev root size type xref bbd ln d6 ff3 endstream startxref pdf erytis llcs LLCS 9067 pdf
  4. A comparative appraisal analysis of engagement in Joe Biden and Donald Trump’s speeches | Discourse... journals.muni.cz/discourse-and-interaction/article/view/38576A comparative appraisal analysis of engagement in Joe Biden and Donald TrumpAos speeches Discourse journals muni cz discourse and interaction article view 38576
Read online
File size375.25 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test