STPMATARAMSTPMATARAM

Journal Of Responsible TourismJournal Of Responsible Tourism

Kawasan Kota Tua Ampenan merupakan destinasi wisata budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, namun potensi pemasarannya belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kemampuan komunikasi multibahasa pramuwisata sebagai strategi pemasaran destinasi di Kota Tua Ampenan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan focus group discussion terhadap pramuwisata, pengelola destinasi, dan wisatawan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tantangan, dan strategi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi multibahasa meningkatkan kualitas interaksi, kepuasan wisatawan, serta memperkuat citra destinasi sebagai kawasan wisata budaya yang ramah bagi wisatawan internasional. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi bahasa pramuwisata dengan kebutuhan pasar wisata global. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan, sertifikasi kompetensi bahasa, serta integrasi teknologi digital dalam strategi pemasaran destinasi. Temuan ini memberikan rekomendasi bagi pengelola destinasi dan pemerintah daerah dalam mengembangkan pemasaran pariwisata yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi multibahasa pramuwisata merupakan salah satu faktor strategis dalam mendukung pemasaran destinasi wisata budaya di Kota Tua Ampenan.Kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan dan mempermudah penyampaian informasi sejarah serta budaya lokal, tetapi juga menciptakan pengalaman wisata yang lebih bermakna sehingga memperkuat citra positif destinasi.Meskipun demikian, pengembangan kompetensi multibahasa masih menghadapi berbagai kendala, seperti terbatasnya penguasaan bahasa asing selain bahasa Inggris, minimnya pelatihan berkelanjutan, dan belum optimalnya dukungan kelembagaan.Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan yang terintegrasi melalui peningkatan kapasitas pramuwisata, pemanfaatan teknologi digital, serta kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi, perguruan tinggi, dan pelaku industri pariwisata.Implementasi strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing Kota Tua Ampenan sebagai destinasi wisata budaya yang berkualitas dan berkelanjutan.

Untuk meningkatkan daya saing Kota Tua Ampenan sebagai destinasi wisata budaya, diperlukan strategi pemasaran yang terintegrasi dan berkelanjutan. Pertama, perlu dilakukan peningkatan kapasitas pramuwisata melalui pelatihan bahasa asing, komunikasi lintas budaya, dan interpretasi wisata. Kedua, pemanfaatan teknologi digital dapat memperkuat implementasi komunikasi multibahasa dalam pelayanan wisata, seperti penggunaan aplikasi penerjemah, sistem informasi wisata multibahasa, dan promosi digital melalui media sosial. Ketiga, kolaborasi antarpemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pengelola destinasi, perguruan tinggi, dan pelaku industri pariwisata, sangat penting dalam menciptakan ekosistem pengembangan pramuwisata yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan dan daya saing destinasi. Dengan sinergi antaraktor ini, diharapkan Kota Tua Ampenan dapat menjadi destinasi wisata budaya yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Read online
File size380.82 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test