UIGMUIGM

Jurnal Pemerintahan dan PolitikJurnal Pemerintahan dan Politik

Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergi antar pelaku multiaktor dalam pengelolaan MECoK Ecopark di Jepara, dengan perspektif collaborative governance model Ansell dan Gash sebagai kerangka teoritis. Desain/metodologi/pendekatan : Penelitian mengadopsi pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Kajian mencakup data primer melalui wawancara, dokumentasi dan observasi lapangan. Adapun data sekunder didapat dari studi dokumentasi melalui website resmi organisasi dan studi pustaka dari e-book, dan e-journal. Temuan : Sinergi pengelolaan MECoK menunjukkan keselarasan dengan model Ansell dan Gash pada Starting Conditions, Facilitative Leadership, dan Collaborative Process, namun terdapat gap Institutional Design, yang mana kolaborasi masih dijalankan dalam bentuk informal tanpa MoU pengelolaan jangka panjang. Meskipun demikian, MECoK telah terbukti berkontribusi terhadap target pembangunan berkelanjutan (SDGs). Implikasi Praktis : Penelitian menyiratkan perlunya mekanisme akuntabilitas, redistribusi peran, serta kesepakatan kerjasama yang lebih terstruktur guna menggeser kolaborasi dari ketergantungan pada aktor tertentu menuju keberlanjutan kelembagaan. Originalitas/Nilai : Berbeda dari riset sebelumnya yang fokus terhadap aspek sosial-ekologis, tulisan memberi kebaruan dengan mengkaji sinergi pengelolaan MECoK menggunakan kerangka collaborative governance, sekaligus menyumbang kontribusi teoritis dengan mendemonstrasikan bahwa kohesi antaraktor dapat mensubtitusi formalisasi kelembagaan sebagai determinan efektivitas kolaborasi. Kata Kunci : Multiaktor, Collaborative Governance, SDGs, Ecopark.

Pengelolaan MECoK Ecopark merepresentasikan praktik collaborative governance berbasis inisiatif bottom-up dengan konfigurasi semi-hierarkis.Kolaborasi efektif berkontribusi pada pencapaian SDGs melalui sinergi aktor yang stabil, meskipun masih terdapat celah pada desain institusional.Kekuatan kolaborasi lebih bergantung pada kredibilitas aktor daripada formalisasi kelembagaan.

1. Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak penerapan MoU formal untuk meningkatkan stabilitas kolaborasi. 2. Perlu dikaji strategi penguatan partisipasi masyarakat lokal dalam forum kolaborasi. 3. Studi evaluasi jangka panjang diperlukan untuk menilai efektivitas tata kelola berbasis kolaborasi dalam mendukung SDGs.

  1. Fostering Sustainable Mangrove Ecotourism: A Collaborative Governance Approach on Bintan Island, Indonesia... doi.org/10.18196/jsp.v15i3.334Fostering Sustainable Mangrove Ecotourism A Collaborative Governance Approach on Bintan Island Indonesia doi 10 18196 jsp v15i3 334
  2. Mangrove Forest Conservation for Disaster Mitigation and Community Welfare in Banda Aceh: a Sustainable... doi.org/10.47172/2965-730X.SDGsReview.v5.n03.pe04787Mangrove Forest Conservation for Disaster Mitigation and Community Welfare in Banda Aceh a Sustainable doi 10 47172 2965 730X SDGsReview v5 n03 pe04787
Read online
File size504.2 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test