UIGMUIGM

Besaung : Jurnal Seni Desain dan BudayaBesaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya

Kesenjangan kognitif antara generasi muda dan warisan budaya agraris di museum sering kali disebabkan oleh sifat artefak yang statis serta keterbatasan media informasi dalam menjelaskan logika mekanis objek yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk merancang animasi edukasi 3D bertajuk Tenggala sebagai media interpretasi digital artefak alat bajak tradisional Bali di Water Museum Mandala Mathika. Menggunakan metode User-Centered Design (UCD), perancangan ini mengintegrasikan rekonstruksi mekanis yang akurat dengan narasi filosofis Tri Hita Karana. Proses perancangan menitikberatkan pada strategi simplifikasi visual melalui pendekatan gaya Nusantara Stylized untuk menurunkan beban kognitif audiens. Fokus utama rekonstruksi mencakup empat komponen krusial, yaitu Uga (pemikul leher) yang dimodifikasi secara ergonomis, Camok (penutup mulut sapi), Tenggala (badan utama), serta tali penghubung daya tarik. Hasil pengujian melalui triangulasi data menunjukkan bahwa media animasi ini dinyatakan sangat valid secara historis oleh pakar materi dan efektif secara fungsional oleh pakar media dengan catatan penyempurnaan pada aspek kehalusan gerak. Uji coba lapangan terhadap 75 responden siswa sekolah menengah menunjukkan tingkat retensi pemahaman prosedural sebesar 81,0% dan peningkatan minat afektif untuk mengunjungi museum sebesar 90,6%. Temuan ini membuktikan bahwa model simulasi naratif-prosedural dalam animasi 3D berhasil mentransformasi artefak fisik yang statis menjadi pengetahuan yang hidup (living knowledge). Penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi strategi konservasi epistemologi budaya Subak, sekaligus memposisikan desain komunikasi visual sebagai agen strategis dalam melestarikan memori kolektif masyarakat agraris di era digital.

Penelitian ini membuktikan bahwa integrasi narasi visual dan rekonstruksi mekanis dalam animasi 3D efektif meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap artefak agraris.Animasi berbasis Nusantara Stylized berhasil mengurangi kesenjangan kognitif dengan menyederhanakan kompleksitas mekanika alat bajak.Hasil uji coba menunjukkan peningkatan retensi pemahaman sebesar 81% dan minat kunjung museum 90,6%, membuktikan potensi animasi sebagai media edukasi interaktif.Penelitian ini menjadi dasar untuk pengembangan strategi konservasi budaya yang berbasis teknologi digital.

1. Pengembangan animasi interaktif berbasis Augmented Reality (AR) untuk meningkatkan keterlibatan pengunjung dalam memahami mekanisme alat tradisional. 2. Studi lanjutan tentang adaptasi desain animasi untuk kurikulum pendidikan formal agar dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran di sekolah. 3. Ekspansi penelitian ke wilayah lain di Bali untuk membandingkan variasi mekanika Tenggala dan mengembangkan database digital warisan budaya yang lebih komprehensif.

  1. STRATEGI PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA MELALUI DIGITALISASI | ISTORIA : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah.... journal.uny.ac.id/index.php/istoria/article/view/52991STRATEGI PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA MELALUI DIGITALISASI ISTORIA Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah journal uny ac index php istoria article view 52991
  2. Strategi pengembangan museum subak sebagai wisata edukasi di kabupaten tabanan | Jurnal Ilmiah Pariwisata... doi.org/10.22334/paris.v1i11.218Strategi pengembangan museum subak sebagai wisata edukasi di kabupaten tabanan Jurnal Ilmiah Pariwisata doi 10 22334 paris v1i11 218
  3. Edukasi Komunikasi Visual untuk Media Digital Museum Penerangan RI | ABDIMAS Jurnal Pengabdian Kepada... doi.org/10.53008/abdimas.v6i1.3646Edukasi Komunikasi Visual untuk Media Digital Museum Penerangan RI ABDIMAS Jurnal Pengabdian Kepada doi 10 53008 abdimas v6i1 3646
Read online
File size857.01 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test