UBBUBB

Journal of Aquatropica AsiaJournal of Aquatropica Asia

Penambangan timah di Kabupaten Bangka Tengah telah menyebabkan perubahan fisik, kimia, dan biologi perairan yang mempengaruhi struktur komunitas organisme akuatik, termasuk fitoplankton. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi komposisi dan komunitas fitoplankton serta menganalisis indeks ekologi pada tiga kolong pascatambang timah dengan tingkat aktivitas antropogenik yang berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis gradien antropogenik pascatambang yang secara eksplisit menguji respons struktur komunitas dan kualitas perairan sepanjang intensitas gangguan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada September–November 2025 melalui metode survei dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 46 genus fitoplankton yang tergolong dalam 5 filum dan 11 kelas. Filum Chlorophyta mendominasi seluruh kolong, dengan kelimpahan relatif tertinggi pada kolong 3 sebesar 72%. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 1.397–32.532 sel/mL yang tergolong kedalam perairan oligotrofik-eutrofik, dengan nilai tertinggi pada kolong 3 yang dipengaruhi oleh tingginya nutrien dari aktivitas pemukiman. Nilai indeks keanekaragaman (H) pada rentang 1,67–2,96 diklasifikasikan sebagai kategori sedang, indeks keseragaman (E) pada rentang 0,64–0,94 diklasifikasikan sebagai kategori tinggi, dan indeks dominansi (C) pada rentang 0,09–0,26 diklasifikasikan sebagai kategori rendah. Hasil tersebut menunjukkan komunitas yang stabil tanpa adanya dominasi ekstrem. Parameter kualitas air umumnya masih mendukung kehidupan fitoplankton, meskipun beberapa parameter seperti suhu, fosfat, dan nitrat melebihi baku mutu. Kolong pascatambang timah di Desa Terak memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai media akuakultur. Namun, pengelolaan dan pengontrolan kualitas air serta masukan nutrien perlu dilakukan guna menjaga stabilitas ekosistem dan mencegah terjadinya eutrofikasi yang berlebihan di masa yang akan datang.

Penelitian ini menunjukan bahwa kolong pascatambang masih mampu mendukung komunitas fitoplankton yang relatif stabil (keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, dominansi rendah).Variasi komposisi dan kelimpahan antar kolong mengindikasikan adanya respons terhadap perbedaan intensitas aktivitas antropogenik.Dari sisi kebijakan, diperlukan sistem monitoring ekologis rutin yang mencakup parameter fitoplankton dan kualitas air sebagai bagian dari upaya rehabilitasi dan pengelolaan perairan pascatambang.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih mendalam tentang dampak aktivitas antropogenik pada struktur komunitas fitoplankton dan kualitas perairan. Selain itu, penelitian tentang pengelolaan dan pengontrolan kualitas air serta masukan nutrien di kolong pascatambang dapat dilakukan untuk menjaga stabilitas ekosistem dan mencegah eutrofikasi. Penelitian tentang potensi akuakultur di kolong pascatambang juga dapat menjadi fokus penelitian lanjutan, dengan mempertimbangkan aspek-aspek seperti kelayakan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Read online
File size2.36 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test