UNIVMEDUNIVMED

Universa MedicinaUniversa Medicina

LATAR BELAKANG Pada laki-laki, seiring dengan meningkatnya usia terjadi penurunan kadar kadar testosteron total (TT). Masih banyak perbedaan pendapat mengenai kontribusi kausal dari kadar testosteron yang rendah terhadap diabetes dan komplikasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan adanya hubungan antara hormon seks dan kadar glukosa darah puasa pada pria dewasa. METODE Studi potong lintang dengan mengikut sertakan 259 pria yang berumur 41 – 70 tahun dilakukan di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Pengukuran kadar sex hormone binding globulin (SHBG) dan testosteron dilakukan dengan teknik electro–chemiluminescent immunoassay (ECLIA), dan glukosa diukur secara enzimatis menggunakan spektrofotometer. Dilakukan perhitungan indeks testosteron bebas (ITB) dan indeks massa tubuh (IMT). Hubungan antar variabel diuji menggunakan analisis korelasi Pearson, yang dilanjutkan dengan analisis regresi ganda linear untuk menetukan faktor yang paling berperan terhadap kadar glukosa darah puasa. HASIL IMT berkorelasi positif dengan kadar gula darah puasa, tetapi secara statistik tidak bermakna (r=0.105; p=0.106). Sebaliknya TT (r=-0.258; p=0.000) dan SHBG (r=-0.193; p=0.02) berkorelasi negatif secara bermakna dengan kadar gula darah puasa. Analisis regresi ganda linear menunjukkan kadar TT yang paling berperan secara bermakna terhadap kadar gula darah puasa (â=-0.044; p=0.008). KESIMPULAN Kadar testosteron total yang rendah dapat meningkatkan kadar gula darah puasa pada pria dewasa. SHBG tidak dapat memprediksi kadar gula darah puasa. Pengukuran testosteron pada pria setengah baya memungkinkan intervensi dini terhadap diabetes melitus.

Kadar testosteron total yang rendah dapat meningkatkan kadar gula darah puasa pada pria dewasa.SHBG tidak dapat memprediksi kadar gula darah puasa.Pengukuran testosteron pada pria setengah baya memungkinkan intervensi dini terhadap diabetes melitus.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi peran SHBG sebagai faktor prediktif dalam pengembangan diabetes melitus. Selain itu, studi longitudinal dapat dikembangkan untuk mengevaluasi efek terapi testosteron pada kelompok usia berbeda. Kajian lebih lanjut juga diperlukan untuk memahami hubungan antara kadar testosteron dengan hormon lain seperti DHEAS dan pengaruhnya terhadap resistensi insulin. Penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang mekanisme biologis yang terkait dengan disfungsi seksual dan komplikasi metabolik pada pria dengan kadar testosteron rendah. Pengembangan metode diagnostik yang lebih akurat untuk menilai status testosteron juga menjadi arah penelitian yang relevan. Studi tentang interaksi antara faktor genetik dan lingkungan dalam regulasi kadar hormon seks juga penting untuk dipertimbangkan. Terakhir, penelitian tentang efektivitas intervensi non-farmakologis seperti olahraga dan perubahan gaya hidup dalam meningkatkan kadar testosteron perlu dilakukan.

Read online
File size34.86 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test