ITBMITBM

Jurnal Riset Diwa Bahari (JRDB)Jurnal Riset Diwa Bahari (JRDB)

Penangkapan ikan tembang (Fringescale sardinella) yang intensif di perairan sekitar Makassar menimbulkan dugaan penurunan ukuran layak tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ukuran pertama kali matang gonad sebagai dasar penentuan ukuran layak tangkap. Penelitian dilakukan dari Oktober hingga Desember 2025 di Tempat Pendaratan Ikan Beba, Kabupaten Takalar, menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode survei untuk memperoleh data biologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang total ikan tembang yang tertangkap berkisar antara 10 hingga 14,5 cm (12,029 ± 0,926 cm). Analisis kematangan gonad menunjukkan bahwa ukuran pertama kali matang gonad (Lm) untuk ikan tembang betina adalah 12,66 cm, sedangkan untuk jantan adalah 13,02 cm. Rata-rata gabungan Lm adalah 12,89 cm. Sementara itu, rata-rata ukuran ikan yang tertangkap selama penelitian mencapai 12,09 cm, lebih rendah dari ukuran kematangan gonad keseluruhan sebesar 13,02 cm. Perbandingan antara ukuran tangkapan dan ukuran kematangan gonad mengindikasikan bahwa sebagian besar ikan yang tertangkap berada di bawah ukuran reproduktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa mayoritas individu dalam populasi tidak berkontribusi secara optimal terhadap proses pemijahan alami saat ditangkap. Penangkapan ikan tembang pada ukuran ini tidak dapat dikategorikan sebagai layak tangkap dan berpotensi mengganggu keberlanjutan stok. Hasil-hasil ini menekankan pentingnya penetapan ukuran tangkap minimum dan pemantauan intensitas eksploitasi untuk menjaga keseimbangan populasi serta mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tembang yang tertangkap didominasi ukuran kecil (11,0–11,5 cm), dengan rata-rata panjang tangkapan (12,09 cm) yang lebih rendah dari ukuran pertama kali matang gonad.Kondisi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar ikan yang tertangkap belum mencapai kematangan reproduktif, sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan stok.Oleh karena itu, penetapan ukuran layak tangkap idealnya ≥14 cm sangat penting untuk memungkinkan ikan memijah setidaknya satu kali dan menjaga keberlanjutan produktivitas perikanan.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi secara lebih mendalam korelasi antara dinamika oseanografi, seperti perubahan suhu permukaan laut dan ketersediaan pakan (klorofil-a), dengan pola pertumbuhan dan kematangan gonad ikan tembang di Selat Makassar. Ini penting untuk memahami bagaimana faktor lingkungan secara spesifik mempengaruhi kapan dan pada ukuran berapa ikan tembang siap berkembang biak, yang kemudian dapat menjadi dasar untuk model prediksi kerentanan stok terhadap perubahan iklim. Selain itu, perlu dikaji dampak implementasi kebijakan ukuran layak tangkap yang lebih besar, pembatasan alat tangkap, atau penentuan musim penangkapan terhadap keberlanjutan populasi ikan tembang dan ekosistem perikanan secara keseluruhan. Penelitian ini dapat mencakup analisis simulasi untuk memprediksi efektivitas berbagai skenario pengelolaan, termasuk potensi pemulihan stok dan perubahan komposisi hasil tangkapan. Terakhir, untuk memastikan keberhasilan pengelolaan yang holistik, studi selanjutnya dapat menginvestigasi aspek sosio-ekonomi dari kebijakan penangkapan ikan tembang, termasuk penerimaan nelayan terhadap regulasi baru serta strategi mitigasi dampak ekonomi pada komunitas perikanan lokal.

Read online
File size637.64 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test