YAMASIYAMASI

Jurnal Kesehatan Yamasi MakassarJurnal Kesehatan Yamasi Makassar

Paparan sinar UV berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit. Usaha pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan tabir surya. Acacia auriculiformis merupakan salah satu spesies dari family Fabaceae yang sebagian besar spesiesnya memiliki aktivitas antioksidan. Acacia auriculiformis dapat berperan sebagai tabir surya alami karena mengandung senyawa metabolit sekunder dengan struktur ikatan rangkap terkonjugasi yang diketahui dapat mengurangi intensitas paparan UV pada kulit dengan menyerap radiasi UV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder ekstrak etanol daun Acacia auriculiformis asal Kolaka dan nilai Sun Protection Factor (SPF) menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi daun Acacia auriculiformis menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Penentuan aktivitas tabir surya didasarkan pada nilai Sun Protection Factor (SPF). Nilai SPF dari ekstrak dengan konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm berturut-turut sebesar 3,8712 (proteksi minimal), 6,4880 (proteksi ekstra), 9,5359 (proteksi maksimal), dan 12,5816 (Proteksi maksimal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas tabir surya berbanding lurus dengan konsentrasi ekstrak. daun Acacia auriculiformis memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sediaan tabir surya.

Ekstrak etanol daun Acacia auriculiformis mengandung senyawa alkaloid, fenol, flavonoid, dan saponin, tetapi tidak ditemukan senyawa triterpenoid dan steroid.Ekstrak etanol daun Acacia auriculiformis memiliki potensi sebagai tabir surya alami berasarkan nilai SPF.

Untuk memperdalam pemahaman dan pemanfaatan potensi daun Acacia auriculiformis sebagai tabir surya alami, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat menjanjikan. Pertama, akan sangat bermanfaat jika penelitian berfokus pada isolasi dan identifikasi struktur kimia dari senyawa aktif spesifik dalam ekstrak yang paling berkontribusi terhadap aktivitas perlindungan UV. Dengan mengetahui senyawa tunggal ini, kita dapat memahami mekanisme kerjanya secara lebih mendalam dan bahkan berpotensi untuk mengembangkan analog yang lebih efektif atau mengoptimalkan proses ekstraksi untuk senyawa tersebut. Kedua, setelah senyawa aktif atau fraksi terbaik teridentifikasi, penelitian selanjutnya perlu diarahkan pada pengembangan formulasi sediaan tabir surya yang stabil, efektif, dan diterima secara kosmetik, seperti krim, losion, atau gel. Ini melibatkan uji stabilitas fisik dan kimia yang ketat untuk memastikan produk mempertahankan efikasinya dalam jangka waktu lama serta pengujian keamanan dermal yang menyeluruh untuk menjamin tidak adanya efek samping pada kulit manusia. Ketiga, untuk menguatkan bukti efikasi, penting untuk melakukan uji in vivo yang lebih ekstensif, tidak hanya pada hewan percobaan tetapi juga melalui uji klinis terkontrol pada sukarelawan manusia. Uji klinis ini akan memvalidasi nilai SPF yang telah diukur secara in vitro dan memberikan data konkret mengenai kemampuan ekstrak dalam melindungi kulit dari kerusakan akibat paparan sinar UV di kondisi nyata, termasuk studi perbandingan dengan produk tabir surya sintetis yang sudah ada di pasaran.

Read online
File size511.61 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test