PTIQPTIQ

Al-DhikraAl-Dhikra

Artikel ini mengkaji perbedaan qirāāt pada taṣrīf al-afāl serta implikasinya terhadap konstruksi penafsiran Al-Quran dalam ranah teologis dan yuridis. Kajian ini berangkat dari problem reduksi studi qirāāt yang selama ini cenderung diposisikan sebagai disiplin fonetik semata, tanpa eksplorasi mendalam terhadap implikasi tafsiriyahnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis deskriptif-komparatif terhadap ayat-ayat yang memiliki variasi qirāāt pada bentuk fiil. Penelitian ini berkesimpulan bahwa perbedaan taṣrīf al-afāl, meliputi perubahan ṣīghah, wazan, bina, dan dhamīr tidak hanya berdampak pada aspek linguistik, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap pembentukan makna teologis dan formulasi hukum Islam. Artikel ini juga menegaskan bahwa qirāāt berfungsi sebagai mekanisme hermeneutik Al-Quran yang memperkaya dan memperluas makna tanpa menimbulkan kontradiksi.

Artikel ini berkesimpulan bahwa perbedaan qirāāt pada tashrīf al-afāl, baik dalam bentuk fiil māḍī, muḍāri, amr, peralihan dhamīr (ghāib, mukhāṭab, mutakallim), maupun perbedaan fiil mabnī malūm dan mabnī majhūl—merupakan bagian integral dari keragaman linguistik Al-Quran yang bersumber dari transmisi wahyu yang sahih.Variasi tersebut tidak berhenti pada aspek fonetik atau gramatikal, tetapi berimplikasi langsung terhadap nuansa penafsiran, baik dalam wilayah akidah maupun fikih.Dalam konteks diskursus tentang keesaan dan kekuasaan Allah (ilahiyyāt), misi dan kesinambungan kenabian (nubuwwāt), keyakinan terhadap perkara ghaib dan kebangkitan (ghaibiyyāt), hakikat iman dan kemunafikan, serta relasi antara amal dan balasan (al-amal wa al-jazā).Variasi bentuk fiil dan sudut pandang wacana menghasilkan lapisan makna yang saling melengkapi, bukan kontradiktif, sehingga memperluas horizon teologi Al-Quran.Sementara itu, dalam wilayah yuridis, perbedaan qirāāt pada tashrīf al-afāl pada ayat-ayat ibadat, nikah, hudūd, dan jihad umumnya tidak melahirkan perbedaan hukum yang substantif, tetapi berfungsi memperjelas, memperluas cakupan, atau menegaskan dasar normatif suatu hukum.Hanya pada kasus tertentu—seperti perbedaan ṣīghah perintah dan berita atau perbedaan wazan—qirāāt berpotensi memengaruhi istinbāṭ hukum, itupun tetap dibatasi oleh kaidah ushul fiqh, maqāṣid al-syarīah, dan konsensus ulama.Lebih jauh, penelitian ini menegaskan kontribusi baru dalam studi qirāāt dengan menunjukkan bahwa taṣrīf al-afāl merupakan variabel kunci dalam memahami relasi antara variasi bacaan dan konstruksi makna.Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung menitikberatkan pada aspek fonetik, penelitian ini membuktikan bahwa variasi morfologis memiliki implikasi hermeneutik yang signifikan dalam penafsiran Al-Quran.Dengan demikian, qirāāt tidak lagi dipahami sekadar sebagai fenomena linguistik, melainkan sebagai mekanisme epistemologis yang berperan aktif dalam membentuk dan memperluas horizon tafsir Al-Quran secara teologis dan yuridis.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada analisis lebih mendalam tentang implikasi hermeneutik dari variasi morfologis dalam Al-Quran, khususnya dalam konteks teologis dan yuridis. Selain itu, studi komparatif antara berbagai mazhab qirāāt dan implikasinya terhadap penafsiran Al-Quran dapat memberikan perspektif yang lebih luas. Terakhir, penelitian tentang peran qirāāt dalam membentuk pemahaman dan keyakinan umat Islam terhadap ajaran Al-Quran dapat menjadi arah studi yang menarik.

  1. IMPLIKASI PERBEDAAN QIRAAT TERHADAP PENAFSIRAN ALQURAN | Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al- Qur'an... journal.uinsgd.ac.id/index.php/Al-Bayan/article/view/8563IMPLIKASI PERBEDAAN QIRAAT TERHADAP PENAFSIRAN ALQURAN Al Bayan Jurnal Studi Ilmu Al Quran journal uinsgd ac index php Al Bayan article view 8563
Read online
File size920.4 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test