UnmulUnmul

Jurnal Kedokteran MulawarmanJurnal Kedokteran Mulawarman

Latar Belakang : Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang menjadi masalah kesehatan global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Kortikosteroid merupakan terapi lini pertama yang paling efektif untuk mengendalikan gejala dan menurunkan inflamasi melalui mekanisme molekuler transaktivasi dan transpresi. Meskipun demikian, tantangan klinis muncul dengan adanya fenomena resistensi atau sensitivitas rendah terhadap kortikosteroid pada kasus asma berat, yang sering dikaitkan dengan faktor stres oksidatif dan penurunan enzim histone deacetylase (HDAC). Kasus : Studi observasional deskriptif ini melaporkan satu kasus seorang pria usia 66 tahun dengan asma eksaserbasi akut berat dengan derajat asma tidak terkontrol di rumah sakit Dirgahayu Samarinda, Indonesia. Data klinis, radiologi, spirometri diambil dari rekam medis. Kesimpulan : Kortikosteroid adalah terapi jangka panjang paling efektif untuk asma Th2, namun sebagian pasien mengalami penurunan respons atau resistensi akibat faktor stres oksidatif dan penurunan enzim HDAC. Studi kasus ini menyoroti pasien dengan asma tak terkontrol, penggunaan jangka panjang kortikostreoid, dan efek samping yang terjadi, menunjukkan indikasi kuat resistensi kortikosteroid karena terapi lini pertama tidak lagi memberikan perbaikan klinis.

Kortikosteroid adalah terapi jangka panjang paling efektif untuk asma Th2, namun sebagian pasien mengalami penurunan respons atau resistensi akibat faktor stres oksidatif dan penurunan enzim HDAC.Studi kasus ini menyoroti pasien dengan asma tak terkontrol, penggunaan jangka panjang kortikostreoid, dan efek samping yang terjadi, menunjukkan indikasi kuat resistensi kortikosteroid karena terapi lini pertama tidak lagi memberikan perbaikan klinis.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi terapi alternatif untuk asma resisten kortikosteroid dengan fokus pada mekanisme stres oksidatif dan aktivitas HDAC. Selain itu, penelitian perlu mengembangkan metode non-invasif seperti tes FeNO untuk memantau respons terhadap terapi kortikosteroid. Terakhir, studi tentang interaksi antara faktor genetik dan lingkungan dalam menghasilkan resistensi kortikosteroid pada asma berat dapat memberikan wawasan baru untuk pengembangan strategi terapi personalisasi.

Read online
File size372.87 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test