POLITANI SAMARINDAPOLITANI SAMARINDA

TEPIANTEPIAN

Operasi harian di pura Hindu Bali seringkali mengharuskan pengelola untuk mengaktifkan dan menonaktifkan lampu dan pengeras suara secara manual, terutama untuk aktivitas doa rutin seperti Tri Sandya pada pukul 06:00, 12:00, dan 18:00. Proses manual ini dapat menjadi tidak efisien ketika operator tidak tersedia dan dapat menyebabkan konsumsi listrik yang tidak perlu ketika perangkat tetap aktif lebih lama dari yang diperlukan. Penelitian ini mengembangkan prototipe Smart Temple berbasis Internet of Things (IoT) untuk pengendalian lampu dan pengeras suara jarak jauh di Pura Pengulon Desa Tradisional. Sistem ini dirancang menggunakan mikrokontroler ESP32, modul relay empat saluran, dan antarmuka web yang memungkinkan pengguna mengendalikan perangkat pura melalui koneksi internet. Penelitian ini menerapkan model pengembangan prototipe, yang terdiri dari komunikasi, perencanaan cepat, pemodelan desain cepat, umpan balik, konstruksi prototipe, pengiriman, dan pengujian fungsional. Pengujian fungsional menunjukkan bahwa semua perangkat yang terhubung dapat diaktifkan dan dinonaktifkan dengan sukses melalui antarmuka web. Pengeras suara diaktifkan dalam 1,51 detik dan dinonaktifkan dalam 2,10 detik, sedangkan tiga saluran lampu menunjukkan waktu aktivasi antara 3,61 dan 4,40 detik dan waktu deaktivasi antara 1,30 dan 2,50 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa prototipe yang diusulkan dapat mendukung pengelolaan perangkat pura yang lebih praktis, fleksibel, dan efisien. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyesuaian konteks operasional fasilitas ibadah tradisional, di mana aksesibilitas jarak jauh, kebutuhan penjadwalan ritual, dan efisiensi penggunaan energi menjadi pertimbangan praktis yang penting.

Prototipe Smart Temple yang dikembangkan telah menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) secara sukses sebagai solusi inovatif untuk pengelolaan pura modern.Sistem ini memungkinkan pengguna untuk memantau dan mengendalikan perangkat listrik yang terpasang di pura secara jarak jauh dari berbagai lokasi, termasuk di luar kota, asalkan perangkat pengguna dan pengendali Smart Temple terhubung ke jaringan internet yang stabil.Kemampuan ini menunjukkan bahwa operasi pura, yang sebelumnya sangat bergantung pada kehadiran fisik operator atau pengelola pura, sekarang dapat diubah menjadi sistem digital yang lebih praktis, fleksibel, dan efisien.Melalui implementasi ini, konsep Smart Temple menawarkan jembatan antara aktivitas keagamaan tradisional dan kemajuan teknologi modern tanpa mengurangi nilai sakral dari aktivitas ibadah di pura.Prototipe sistem ini dirancang khusus untuk mengendalikan beberapa perangkat listrik yang umum digunakan di pura, seperti sistem pencahayaan, pengeras suara, pengeras suara, dan fasilitas pendukung lainnya.Melalui antarmuka web, pengguna dapat mengakses sistem dengan mudah menggunakan smartphone, tablet, laptop, atau komputer desktop.Dasbor website berisi empat sakelar kontrol, di mana setiap sakelar terhubung ke modul relay individu yang berfungsi sebagai sakelar elektronik untuk perangkat terpisah.Pengaturan ini memungkinkan pengguna untuk mengaktifkan atau menonaktifkan setiap perangkat yang terhubung secara independen secara real-time.Misalnya, lampu pura dapat dinyalakan sebelum upacara dimulai, sedangkan pengeras suara dapat diaktifkan hanya selama jadwal doa.Hal ini sangat meningkatkan kenyamanan dan memberikan kendali yang lebih baik atas operasi listrik di pura.Salah satu kontribusi paling penting dari prototipe Smart Temple adalah perannya dalam meningkatkan efisiensi energi dan mengoptimalkan penggunaan listrik.Di banyak lingkungan pura konvensional, perangkat listrik sering kali dibiarkan menyala lebih lama dari yang diperlukan karena operator lupa mematikan atau tidak dapat datang ke pura tepat waktu.Situasi ini dapat menyebabkan konsumsi listrik yang tidak perlu dan peningkatan biaya operasional.Dengan menggunakan sistem Smart Temple, pengguna dapat secara jarak jauh mematikan lampu, pengeras suara, atau perangkat lainnya segera setelah tidak lagi diperlukan.Akibatnya, penggunaan listrik menjadi lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.Dalam jangka panjang, sistem ini memiliki potensi untuk mengurangi pemborosan energi dan menurunkan biaya pemeliharaan pura.Keuntungan signifikan lainnya dari prototipe yang dikembangkan adalah peningkatan aksesibilitas dan pengalaman pengguna melalui antarmuka website yang didesain ulang.Platform web telah dikembangkan menggunakan pendekatan desain responsif dan dinamis, yang berarti tampilan menyesuaikan diri secara otomatis sesuai dengan ukuran dan jenis layar perangkat yang digunakan oleh pengguna.Baik diakses dari smartphone, tablet, atau komputer, antarmuka tetap jelas, terorganisir, dan mudah dinavigasi.Desain responsif ini sangat penting karena banyak pengguna saat ini mengandalkan perangkat seluler untuk aktivitas digital harian.Platform Smart Temple memastikan bahwa pengguna dapat mengendalikan perangkat pura kapan saja dan di mana saja tanpa kesulitan teknis.Sistem Smart Temple juga mempertimbangkan metode autentikasi modern untuk melindungi akses pengguna.Selain mengandalkan kombinasi nama pengguna dan kata sandi tradisional, versi sistem di masa depan dirancang untuk mengadopsi teknologi autentikasi tanpa kata sandi seperti FIDO2.Melalui mekanisme ini, pengguna dapat masuk secara aman menggunakan metode verifikasi biometrik seperti sidik jari atau pengenalan wajah, tergantung pada perangkat yang digunakan.Pendekatan ini menawarkan beberapa keuntungan, termasuk perlindungan yang lebih kuat terhadap pencurian kata sandi, serangan phishing, dan kredensial yang terlupakan.Selain itu, autentikasi tanpa kata sandi menyederhanakan pengalaman pengguna karena administrator dan petugas pura dapat mengakses sistem lebih cepat dan lebih nyaman.Temuan penelitian menunjukkan peluang yang kuat untuk pengembangan di masa depan, terutama di bidang otomasi dan penjadwalan cerdas.Saat ini, website digunakan untuk mengirim perintah secara manual ke sistem.Namun, peningkatan di masa depan dapat mengintegrasikan fitur penjadwalan otomatis yang memungkinkan perangkat beroperasi sesuai dengan waktu aktivitas keagamaan yang ditentukan sebelumnya.Misalnya, sakelar relay 1, yang terhubung ke sistem pengeras suara, dapat diprogram untuk secara otomatis menyala pada pukul 06.00 untuk memainkan suara gong dan doa Tri Sandya, kemudian mematikan kembali setelah durasi yang dijadwalkan.Dengan otomasi tersebut, pengguna tidak lagi perlu mengakses website setiap hari untuk melakukan tugas berulang secara manual.Fitur ini akan sangat meningkatkan keandalan, terutama ketika operator pura sibuk, tidak tersedia, atau berada di luar area.Pengembangan di masa depan juga dapat mencakup integrasi sensor, notifikasi waktu nyata, dan sistem pemantauan daya.Sensor dapat mendeteksi intensitas sistem, kondisi lingkungan seperti suhu, atau okupansi, memungkinkan perangkat merespons secara otomatis berdasarkan kondisi aktual.Notifikasi melalui pesan dapat menginformasikan administrator ketika perangkat dinyalakan atau dimatikan, sedangkan sistem pemantauan daya dapat memberikan data terperinci tentang konsumsi listrik.Perbaikan ini akan membuat sistem Smart Temple semakin cerdas, transparan, dan efisien.Prototipe Smart Temple menunjukkan potensi yang sangat baik sebagai implementasi praktis teknologi IoT di tempat ibadah.Ia berhasil menggabungkan kendali jarak jauh, efisiensi energi, akses web responsif, autentikasi yang aman, dan kemampuan automasi masa depan ke dalam satu sistem terintegrasi.Yang lebih penting, sistem ini mendukung pengelolaan pura dalam melaksanakan tugas operasional harian sambil mempertahankan kontinuitas praktik ibadah tradisional.Oleh karena itu, prototipe Smart Temple dapat dianggap sebagai inovasi yang berharga yang tidak hanya memodernisasi fasilitas pura tetapi juga mempromosikan pengelolaan yang berkelanjutan, andal, dan ramah pengguna untuk masa depan.

Berdasarkan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Otomasi dan penjadwalan cerdas: Penelitian dapat fokus pada pengembangan fitur penjadwalan otomatis yang memungkinkan perangkat beroperasi sesuai dengan waktu aktivitas keagamaan yang ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, pengguna tidak perlu mengakses website setiap hari untuk melakukan tugas berulang secara manual. Hal ini akan meningkatkan keandalan sistem, terutama ketika operator pura sibuk atau tidak tersedia.. . 2. Integrasi sensor dan notifikasi waktu nyata: Penelitian dapat mengeksplorasi integrasi sensor untuk mendeteksi intensitas sistem, kondisi lingkungan, atau okupansi. Sensor-sensor ini dapat membantu perangkat merespons secara otomatis berdasarkan kondisi aktual. Selain itu, penelitian dapat mengembangkan sistem notifikasi waktu nyata yang menginformasikan administrator ketika perangkat dinyalakan atau dimatikan, sehingga meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kesalahan manusia.. . 3. Pemantauan daya dan analisis: Penelitian dapat berfokus pada pengembangan sistem pemantauan daya yang memberikan data terperinci tentang konsumsi listrik. Dengan analisis data ini, pengelola pura dapat mengoptimalkan penggunaan energi, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan kesadaran akan efisiensi energi. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi cara-cara untuk mengintegrasikan data pemantauan daya dengan sistem otomasi dan penjadwalan cerdas, sehingga menciptakan sistem manajemen pura yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

  1. Automatic Temperature and Humidity Regulation System Design for Oyster Mushroom Growth | TEPIAN. automatic... e-journal.politanisamarinda.ac.id/index.php/tepian/article/view/3251Automatic Temperature and Humidity Regulation System Design for Oyster Mushroom Growth TEPIAN automatic e journal politanisamarinda ac index php tepian article view 3251
  2. International Journal of Research and Scientific Innovation (IJRSI). journal research scientific innovation... rsisinternational.org/journals/ijrsiInternational Journal of Research and Scientific Innovation IJRSI journal research scientific innovation rsisinternational journals ijrsi
  3. Implementation of Zoning Theory Based on the Concept of Tri Hita Karana, Tri Mandala and Sanga Mandala... e-journal.lp2m.uinjambi.ac.id/ojp/index.php/SDGs/article/view/3176Implementation of Zoning Theory Based on the Concept of Tri Hita Karana Tri Mandala and Sanga Mandala e journal lp2m uinjambi ac ojp index php SDGs article view 3176
Read online
File size610.19 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test