STAIMA ALHIKAMSTAIMA ALHIKAM

AJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic EducationAJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic Education

Pendidikan Islam sering menggunakan pola-pola indoktrinasi dalam proses pendidikannya. Proses pendidikan indoktrinatif ini menghadirkan relasi otoriter yang dipandang efektif dalam menanamkan doktrin, tetapi kurang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bersikap kritis terhadap doktrin-doktrin yang diajarkan. Penelitian ini berupaya melakukan kajian terhadap pendekatan indoktrinasi dan dampaknya terhadap kemampuan penalaran peserta didik. Dengan menggunakan metode literatur review, penelitian ini berupaya menemukan pendekatan moderat terhadap penggunaan indoktrinasi dan penalaran dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian ini memberi penjelasan bahwa indoktrinasi tidak mungkin dihindarkan dan dibutuhkan dalam kegiatan pendidikan Islam yang memiliki karakteristik khusus, yaitu materi keIslaman yang bersifat taabbudi khususnya dalam masalah keimanan dan ibadah. Tetapi pada materi ke-Islaman yang mengandung muatan taaqquli pada aspek muamalah, penggunaan penalaran mesti diperkuat dalam kegiatan pengajaran untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan problem solving peserta didik. Dengan kemampuan penalaran dan daya kritis yang dimiliki, peserta didik tidak akan mudah terindoktrinasi paham radikal dan gerakan terorisme.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa ajaran agama yang taabudi, statis, atau qathi dapat dimaklumi penanamannya menggunakan metode indoktrinasi.Seorang pendidik muslim juga harus memahami pemikiran Islam adalah sesuatu yang profan, bukan sakral, yang mengandung kemungkinan salah, sehingga dapat mengajarkannya secara benar.Penting pula disadari oleh pendidik muslim, bahwa untuk menyiapkan generasi muslim yang berkualitas dengan intelektualias yang tinggi, membutuhkan metode pendidikan yang tidak indoktrinatif, sebab metode ini hanya akan menjadikan peserta didik menjadi pasif, rendah inisiatif, tidak kreatif dan berpemikiran dangkal serta sempit.Lebih besar lagi dampaknya adalah manakala peserta didik terindoktrinasi menjadi orang yang berkarakter bengis, kejam, intoleran dan tidak memiliki perikemanusiaan.Disamping itu, pengajaran agama yang indoktrinatif juga berpotensi melahirkan peserta didik yang tidak mampu memahami ajaran agama secara holistik, sehingga pemikirannya sempit dan tidak mampu menghayati kemajemukan yang niscaya dalam kehidupan ini.Jika kita sebagai pendidik meyakini bahwa ajaran agama kita atau pandangan yang kita pegangi adalah benar, mestinya kita tidak takut peserta didik kita berpaling ke ajaran/pandangan yang lain.Justeru dengan indoktrinasi yang berlebihan, peserta didik akan merasa dibohongi dan membenci kita sebagai gurunya, karena tidak obyektif terhadap berbagai pandangan.Seorang pendidik perlu memiliki kejelasan pemahaman tentang taabudi dan taaqquli dari materi pembelajaran PAI yang diajarkannya, agar dapat memilih pendekatan dan strategi pembelajaran yang tepat.Dengan demikian, ia tidak akan terjebak dengan penggunaan indoktrinasi semata sehingga pembelajaran PAI dapat berkontribusi dalam peningkatan kemampuan berpikir peserta didik, memperkuat penalaran, dan kemampuan problem solvingnya.Dengan penalaran dan daya kritis yang dimiliki, peserta didik kita tidak akan mudah terindoktrinasi paham radikal dan gerakan terorisme.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji integrasi pendekatan berbasis konteks dalam pembelajaran PAI untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi dampak penggunaan media digital terhadap proses indoktrinasi dalam pendidikan Islam, terutama di era transformasi teknologi saat ini. Sementara itu, penelitian juga dapat fokus pada pengembangan metode pembelajaran yang menggabungkan elemen taabbudi dan taaqquli secara seimbang untuk memastikan peserta didik tidak hanya menghafal doktrin tetapi juga mampu menganalisis dan mengevaluasi nilai-nilai agama secara rasional. Dengan memperhatikan aspek ini, pendidikan Islam diharapkan mampu menciptakan generasi yang kritis, toleran, dan mampu menghadapi tantangan global tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keislaman.

  1. Hukum Islam: Dialektika Konsep Ta’abbudi dan Ta’aqquli | Jurnal Ilmiah AL-Jauhari: Jurnal... journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/aj/article/view/2546Hukum Islam Dialektika Konsep TaAoabbudi dan TaAoaqquli Jurnal Ilmiah AL Jauhari Jurnal journal iaingorontalo ac index php aj article view 2546
  2. Efektivitas Pengintegrasian Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi Melalui Teknik Klarifikasi Nilai... doi.org/10.24114/jk.v18i1.23730Efektivitas Pengintegrasian Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi Melalui Teknik Klarifikasi Nilai doi 10 24114 jk v18i1 23730
  3. Model Pembelajaran Kognitif Moral Berbentuk Cerita Animasi Dilema Moral Bagi Siswa Kelas Rendah | Jurnal... doi.org/10.31004/obsesi.v7i6.5333Model Pembelajaran Kognitif Moral Berbentuk Cerita Animasi Dilema Moral Bagi Siswa Kelas Rendah Jurnal doi 10 31004 obsesi v7i6 5333
Read online
File size218.43 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test