UNTADUNTAD

KinesikKinesik

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi maskulinitas toksik dalam film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika model John Fiske. Ada tiga level pengkodean dalam model ini, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi maskulinitas toksik yang digambarkan tokoh utama pada level realitas kategori kostum. Level representasi kode yang menggambarkan maskulinitas toksik ditampilkan pada pengambilan gambar seperti medium shot, close up, two shot, dan over shoulder shot. Level ideologi yang terlihat yaitu individualisme yang tinggi dari Ajo Kawir yang memiliki sikap superioritas, bertindak demi kepentingan pribadi, dan keras kepala. Maskulinitas toksik tokoh utama dipengaruhi oleh trauma masa lalu, dan masyarakat patriarki. Level realitas kode sosial ditampilkan melalui kostum, gaya bicara, dan ekspresi. Level representasi kode sosial ditampilkan melalui kamera dan pencahayaan. Level ideologi kode sosial ditampilkan melalui aksi, dialog, dan karakter.

Pengamatan dilakukan dengan memperhatikan tiga level pengkodean yang telah ditentukan oleh Jhon Fiske dalam menentukan suatu tanda yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi.Ketiga level yang peneliti lakukan telah mendapatkan bagaimana Ajo Kawir dalam film dapat memenuhi tiga level pengkodean tersebut sehingga penggambaran toxic masculinity yang ingin peneliti perlihatkan dapat dianalisa dengan baik dan menjawab pertanyaan pada rumusan masalah.Pada level realitas, penelitian mencakup kategori kostum dan perilaku Ajo Kawir yang mengungkapkan aspek-aspek maskulinitas toksik dalam karakternya.Perilaku Ajo Kawir mudah melakukan tindakan kekerasan fisik dengan alasan ingin mendominasi laki-laki lain di depan banyak orang masuk kedalam sikap toxic masculinity.Melalui penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman remaja mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam interaksi di media sosial dan tidak hanya terfokus pada penggunaan media sosial, tetapi juga aktif dalam membangun hubungan yang setara dalam konteks kehidupan nyata.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi representasi toxic masculinity dalam media audiovisual lainnya, seperti serial televisi atau iklan, untuk melihat apakah pola semiotika serupa berlaku di berbagai konteks budaya. Selain itu, peneliti bisa mengkaji dampak representasi toxic masculinity terhadap persepsi masyarakat terhadap norma gender, khususnya melalui studi kualitatif dengan wawancara mendalam. Terakhir, penelitian juga bisa menggabungkan pendekatan semiotika dengan analisis psikologis untuk memahami bagaimana representasi tersebut memengaruhi perilaku individu dalam memandang kekuasaan dan kesetaraan gender.

Read online
File size429.08 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test