INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL

Indonesian Journal of TheologyIndonesian Journal of Theology

Kemunculan teknologi humanoid di era Society 5.0 menimbulkan pertanyaan teologis baru mengenai relasi antara Allah, manusia, dan entitas buatan. Artikel ini mengusulkan Becoming Deu-Hu-Moid sebagai model teologis konstruktif untuk menafsirkan relasi tersebut. Dengan berdialog dengan teologi becoming Catherine Keller dan doktrin creatio continua, artikel ini menelaah kehadiran teknologi humanoid dalam dinamika penciptaan yang terus berlangsung. Tulisan ini berargumen bahwa humanoid tidak dapat dipahami sebagai subjek spiritual ataupun sebagai pengganti relasi manusia dengan Allah. Sebaliknya, humanoid berfungsi sebagai partisipan relasional terbatas yang secara instrumental dapat memperkaya praktik pastoral serta mendukung partisipasi gereja dalam missio Dei. Dalam konstruksi ini, relasi antara Deus (Allah), Hu (manusia), dan Moid (humanoid) dapat dibayangkan sebagai jaringan relasi ko-kreatif yang muncul dalam proses becoming yang terbuka dan dinamis, sekaligus menyadari ambiguitas serta batas-batas mediasi teknologi humanoid.

Artikel ini telah berargumen bahwa relasi antara Allah, manusia, dan humanoid di era Society 5.Dengan berdialog dengan teologi becoming Catherine Keller serta doktrin creatio continua, artikel ini menunjukkan bahwa kreativitas teknologi manusia merupakan bagian dari dinamika penciptaan yang terus berlangsung, bukan sebagai proyek pelampauan kondisi manusia sebagai makhluk ciptaan.Dalam konstruksi ini, humanoid tidak dapat dipandang sebagai subjek spiritual ataupun sebagai pengganti relasi eksistensial manusia dengan Allah.Humanoid tetaplah sebuah artefak teknologi yang hanya berpartisipasi secara terbatas dalam proses relasional kehidupan sosial manusia.Signifikansi teologisnya terletak pada peran instrumentalnya untuk mendukung praktik pastoral sekaligus memperluas keterlibatan gereja dengan individu atau komunitas yang rentan dalam cakrawala missio Dei.

Berdasarkan analisis dalam artikel ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Menelaah lebih mendalam implikasi etis dan teologis dari penggunaan humanoid dalam konteks religius, terutama dalam hal pengakuan dosa dan pendidikan religius. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat mendukung atau mengaburkan pengalaman spiritual autentik, serta bagaimana komunitas religius dapat menjaga otoritas interpretatif dan spiritualitas dalam era teknologi.. . 2. Mempertimbangkan dampak sosial dan etis dari integrasi teknologi humanoid dalam pelayanan publik, khususnya dalam hal privasi, keamanan data, dan kesetaraan akses. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana teknologi dapat memperdalam ketimpangan sosial dan bagaimana komunitas dapat memastikan teknologi digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara adil dan inklusif.. . 3. Mengkaji peran humanoid dalam konteks krisis relasional, terutama dalam hal kesepian dan fragmentasi relasi interpersonal. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat menjadi solusi atau justru memperdalam masalah, serta bagaimana komunitas dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkuat relasi manusiawi dan mencegah isolasi sosial.

  1. Becoming Deu-Hu-Moid | Indonesian Journal of Theology. becoming deu hu moid indonesian journal theology... doi.org/10.46567/ijt.v14i1.701Becoming Deu Hu Moid Indonesian Journal of Theology becoming deu hu moid indonesian journal theology doi 10 46567 ijt v14i1 701
Read online
File size361.76 KB
Pages29
DMCAReport

Related /

ads-block-test