INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL

Indonesian Journal of TheologyIndonesian Journal of Theology

Artikel ini berangkat dari kesadaran akan semakin kompleks dan mendesaknya isu kesehatan mental generasi muda. Dalam konteks tersebut, liturgi gereja dimaknai tidak hanya sebagai ruang ritual dan formasi iman, tetapi juga sebagai ruang pastoral. Artikel ini berargumen bahwa praktik pengucapan yaahowu dalam liturgi Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) berpotensi menghadirkan ruang pastoral yang menguatkan dan menopang generasi muda Nias dalam pergumulan mereka terkait kesehatan mental. Metode penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan sumber data berupa teks liturgi BNKP, kajian akademik mengenai konsep yaahowu, pastoral liturgi, inkulturasi liturgi, serta kesehatan mental generasi muda. Data dilengkapi dengan wawancara mendalam terhadap dua tokoh budaya Nias untuk menggali makna yaahowu dan empat remaja Kristen Nias untuk memahami pergumulan mereka terkait kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pengucapan yaahowu dalam liturgi BNKP berpotensi mengafirmasi identitas komunitas positif, menyalakan pengharapan, dan menegaskan hidup bermakna bagi umat.

Artikel ini berargumen bahwa yaahowu dalam liturgi BNKP tidak hanya merupakan ekspresi budaya Nias yang diinkulturasikan ke dalam ibadah, tetapi juga tindakan liturgis yang menghadirkan dan membentuk relasi antar umat.Argumentasi ini memperoleh relevansinya dalam konteks kehidupan pemuda Nias yang menghadapi tekanan sosial, keterbatasan ekonomi, dan pergumulan identitas, sebagaimana tampak dalam pengalaman para informan penelitian.Penelitian menyimpulkan bahwa pengucapan yaahowu dalam liturgi menjadi ruang yang menghadirkan pengakuan, penerimaan, membentuk relasi yang egaliter serta mengafirmasi martabat setiap pribadi.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak jangka panjang penggunaan salam liturgis lokal seperti yaahowu terhadap kesehatan mental pemuda, dengan melibatkan partisipasi aktif komunitas lokal. Selain itu, perlu dikembangkan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan teologi liturgi dengan psikologi sosial untuk memahami dinamika hubungan antarumat dalam konteks keagamaan. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi potensi inkulturasi elemen budaya lain dalam liturgi untuk menciptakan ruang pastoral yang lebih inklusif dan relevan bagi generasi muda.

  1. Presenting Ya'ahowu in a New Way as a Liturgical Greeting | Indonesian Journal of Theology. presenting... doi.org/10.46567/ijt.v14i1.778Presenting Yaahowu in a New Way as a Liturgical Greeting Indonesian Journal of Theology presenting doi 10 46567 ijt v14i1 778
Read online
File size507.41 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test