INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL
Indonesian Journal of TheologyIndonesian Journal of TheologyArtikel ini berargumen bahwa terdapat upaya manusia untuk mencari pola yang dibentuk dari hal-hal tertentu ketika berhadapan dengan penderitaan, baik dalam upaya bertahan hidup atau mencari makna. Artikel ini membahas rengget (lantunan kehidupan masyarakat Karo) dan dua gagasan Moltmann sebagai bahasa ratapan terhadap penderitaan. Dengan mengimajinasikan Moltmann meratap melalui karya-karyanya, kedua teknik ditempatkan berdampingan sebagai model ratapan dalam upaya memahami teodisi. Rengget sebagai produk kultural merupakan instrumen yang merawat relasi, ingatan, dan harapan. Karya-karya Moltmann mengarah pada makna pengharapan. Dua model ratapan tersebut bertemu pada gagasan mengenai keterhubungan segala sesuatu. Pertemuan rengget dan ratapan Moltmann menawarkan cara berefleksi secara teologis tentang penderitaan dan teodisi.
Rengget dan ratapan Moltmann menunjukkan bahwa keterhubungan segala sesuatu dapat dipahami melalui budaya dan teologi.Rengget sebagai bentuk ekspresi budaya Karo menggambarkan hubungan antara hidup dan kematian, sementara teologi Moltmann menekankan harapan dan kebangkitan.Kedua pendekatan ini memberikan perspektif yang kaya untuk memahami penderitaan dan makna kehidupan.Keterhubungan segala sesuatu menjadi inti dari refleksi teologis yang diusung oleh kedua model ini.
1. Penelitian lanjutan dapat membandingkan model ratapan Rengget dengan tradisi ratapan budaya lainnya untuk memahami perbedaan dan kesamaan dalam ekspresi penderitaan. 2. Analisis lebih mendalam tentang konsep kebangkitan dalam karya-karya Moltmann dalam konteks teologi kontemporer untuk menghubungkan gagasannya dengan isu-isu modern. 3. Studi tentang peran komunitas dalam praktik Rengget dapat dikembangkan untuk mengeksplorasi bagaimana budaya lokal memperkuat solidaritas dan harapan dalam menghadapi kesulitan.
| File size | 255.46 KB |
| Pages | 19 |
| DMCA | Report |
Related /
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL Roh Kudus sendiri yang membentuk gereja sebagai “cara berada yang relasional dan ekstatik, sehingga kehadiran personal tidak lagi terikat pada ko-lokasiRoh Kudus sendiri yang membentuk gereja sebagai “cara berada yang relasional dan ekstatik, sehingga kehadiran personal tidak lagi terikat pada ko-lokasi
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL Dengan memanfaatkan konsep futurum–adventus serta creatio continua, pengunggahan dipahami sebagai ekspresi partisipasi kreatif manusia dalam dinamikaDengan memanfaatkan konsep futurum–adventus serta creatio continua, pengunggahan dipahami sebagai ekspresi partisipasi kreatif manusia dalam dinamika
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL Komitmennya untuk meningkatkan pemahaman dan perspektif yang dapat diterima bersama di seberang jurang agama adalah sebuah prestasi yang patut dicatat.Komitmennya untuk meningkatkan pemahaman dan perspektif yang dapat diterima bersama di seberang jurang agama adalah sebuah prestasi yang patut dicatat.
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL ix). Buku ini berhasil mencerminkan tema-tema teologis penting bagi Barth dengan kejelasan yang luar biasa. Dengan bantuan buku ini, pembaca dapat memilikiix). Buku ini berhasil mencerminkan tema-tema teologis penting bagi Barth dengan kejelasan yang luar biasa. Dengan bantuan buku ini, pembaca dapat memiliki
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL The Last Supper: Art, Faith, Sex, and Controversy in the 1980s adalah buku yang ditulis oleh Paul Elie, yang menelusuri perkembangan musik, film, seniThe Last Supper: Art, Faith, Sex, and Controversy in the 1980s adalah buku yang ditulis oleh Paul Elie, yang menelusuri perkembangan musik, film, seni
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL Dalam konteks tersebut, liturgi gereja dimaknai tidak hanya sebagai ruang ritual dan formasi iman, tetapi juga sebagai ruang pastoral. Artikel ini berargumenDalam konteks tersebut, liturgi gereja dimaknai tidak hanya sebagai ruang ritual dan formasi iman, tetapi juga sebagai ruang pastoral. Artikel ini berargumen
CHEM UPRCHEM UPR Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Gampong Tanjong Pineung memiliki kompetensi kebahasaan yang dinamis dan adaptif, ditandai dengan penggunaanTemuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Gampong Tanjong Pineung memiliki kompetensi kebahasaan yang dinamis dan adaptif, ditandai dengan penggunaan
CHEM UPRCHEM UPR Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan media sosial memberikan dampak positif berupa meningkatnya partisipasi dan kontrol sosial mahasiswa, namunPenelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan media sosial memberikan dampak positif berupa meningkatnya partisipasi dan kontrol sosial mahasiswa, namun
Useful /
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL Dalam konteks teologi Kristen, banyak gereja, atas dasar dogma dan penafsiran tunggal terhadap Kitab Suci, mempertahankan sikap konservatif yang berujungDalam konteks teologi Kristen, banyak gereja, atas dasar dogma dan penafsiran tunggal terhadap Kitab Suci, mempertahankan sikap konservatif yang berujung
INDOTHEOLOGYJOURNALINDOTHEOLOGYJOURNAL Penulis mengkritik struktur dominan yang mengabaikan hak dan pengetahuan komunitas adat, serta menawarkan pendekatan berbasis relasional dan resistensiPenulis mengkritik struktur dominan yang mengabaikan hak dan pengetahuan komunitas adat, serta menawarkan pendekatan berbasis relasional dan resistensi
CHEM UPRCHEM UPR Dari garis keturunan, ditemukan 31 bentuk sapaan, seperti Ama, Ayah, dan Apak untuk ayah kandung. Dari hubungan perkawinan, ditemukan 18 bentuk sapaan,Dari garis keturunan, ditemukan 31 bentuk sapaan, seperti Ama, Ayah, dan Apak untuk ayah kandung. Dari hubungan perkawinan, ditemukan 18 bentuk sapaan,
CHEM UPRCHEM UPR Jenis bahasa figuratif kiasan yang ditemukan dalam album Nonfiksi tergolong beragam, meliputi majas simile, metafora, alegori, personifikasi, epitet, sinekdoke,Jenis bahasa figuratif kiasan yang ditemukan dalam album Nonfiksi tergolong beragam, meliputi majas simile, metafora, alegori, personifikasi, epitet, sinekdoke,