SCITECHGRUPSCITECHGRUP

Asian Journal of Environmental ResearchAsian Journal of Environmental Research

Air pantai Pulau Pombo, Maluku, yang kaya akan keanekaragaman hayati bentik tetapi rentan terhadap degradasi, dipetakan menggunakan citra satelit PlanetScope (3m) dan data lapangan melalui pendekatan random forest. Hasilnya menunjukkan dominasi flat terumbu dalam (54%) dan substrat pasir (39,62%), dengan tutupan terumbu karang sebesar 22,31%, sedangkan analisis geomorfologis mengungkapkan korelasi kuat antara lereng terumbu terlindung (18,78%) dan distribusi habitat bentik (akurasi klasifikasi 85%). Temuan ini tidak hanya membuktikan efektivitas teknologi penginderaan jauh untuk pemantauan ekosistem tropis, tetapi juga merekomendasikan strategi konservasi berbasis zonasi, khususnya perlindungan terumbu karang dan rehabilitasi rumput laut, sebagai kontribusi terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sejalan dengan target SDG.

Penelitian ini berhasil memetakan morfologi dasar laut dan distribusi habitat bentik di perairan Pulau Pombo menggunakan citra satelit PlanetScope beresolusi tinggi, yang mengungkapkan dominasi flat terumbu dalam (54,00%) dan substrat pasir (39,62%) sebagai fitur utama ekosistem pesisirnya.Analisis menunjukkan korelasi kuat antara variasi geomorfologis, seperti lereng terumbu terlindung (18,78%) dan terumbu karang (2,70%), dengan distribusi habitat bentik, termasuk tutupan terumbu karang (22,31%), yang berperan penting sebagai penangkap karbon dan habitat bagi biota laut.Pendekatan integratif berbasis pembelajaran mesin dan validasi lapangan terbukti efektif dalam mengatasi keterbatasan data in situ, dengan akurasi klasifikasi mencapai 85% untuk pemetaan kedalaman dangkal (<20 m).Temuan ini tidak hanya menyediakan basis data spasial yang diperbarui untuk pengelolaan kawasan konservasi di Pulau Pombo, tetapi juga membuktikan potensi citra PlanetScope sebagai solusi hemat biaya untuk pemantauan ekosistem pesisir tropis di Indonesia.Rekomendasi kebijakan mencakup prioritas konservasi zona terumbu karang dan lereng terumbu terlindung sebagai area pemijahan ikan, serta pemanfaatan metode ini untuk pemetaan regional guna mendukung target pembangunan berkelanjutan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengembangkan metode koreksi radiometrik dan algoritma pembelajaran mesin yang adaptif terhadap kondisi lokal, guna meningkatkan keandalan hasil pemetaan. Selain itu, perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai proporsi tinggi tutupan terumbu karang dan alga (22,31%), yang mungkin mencerminkan pergeseran ekosistem dari terumbu karang hidup ke dominasi alga akibat eutrofikasi atau pemutihan. Pemetaan geomorfologi berbasis PlanetScope juga dapat dimanfaatkan sebagai basis data untuk perencanaan zonasi konservasi, dengan prioritas pada zona terumbu karang dan lereng terumbu terlindung sebagai area pemijahan ikan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, peneliti, dan masyarakat pesisir diperlukan untuk mengintegrasikan data spasial ini ke dalam rencana pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif terhadap perubahan iklim.

  1. CoralMapping/AllenCoralAtlas: DOI for paper at ~ v1.3 | Zenodo. coralmapping doi paper v1 zenodo skip... doi.org/10.5281/zenodo.6622015CoralMapping AllenCoralAtlas DOI for paper at v1 3 Zenodo coralmapping doi paper v1 zenodo skip doi 10 5281 zenodo 6622015
Read online
File size605.22 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test