PNLPNL

Jurnal VokasiJurnal Vokasi

Angka kematian akibat henti jantung di luar rumah sakit (Out-of-Hospital Cardiac Arrest/OHCA) masih tinggi dan sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan pemberian pertolongan pertama. Rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat awam dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat awam dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari, khususnya Resusitasi Jantung Paru (RJP), di Nagari Lubuk Gadang Barat Daya, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa (andragogi) yang partisipatif, dengan metode pelaksanaan meliputi tiga tahap, yaitu koordinasi dengan mitra terkait, pelaksanaan berupa edukasi melalui ceramah dan tanya jawab yang dilanjutkan dengan demonstrasi serta simulasi praktik RJP secara langsung oleh peserta, dan evaluasi melalui pre-test dan post-test terhadap pengetahuan serta keterampilan peserta. Kegiatan dilaksanakan pada 23 Agustus 2025 di Masjid Baiturrahman Liki dan diikuti oleh 110 peserta yang terdiri dari perangkat nagari, kader posyandu, ibu-ibu PKK, dan masyarakat sekitar. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi serta meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan BHD. Mitra, yaitu Wali Nagari, Kepala Jorong, Dinas Kesehatan Kabupaten Solok Selatan, dan Puskesmas Sangir, memberikan dukungan penuh terhadap keberhasilan kegiatan. Pelatihan BHD berbasis komunitas seperti ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, mengurangi keterlambatan pertolongan, dan menurunkan angka kematian akibat henti jantung di luar fasilitas kesehatan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Nagari Lubuk Gadang Barat Daya, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, telah terlaksana dengan baik dan diikuti oleh 110 peserta.Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat awam dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari, khususnya dalam melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).Pelatihan BHD berbasis komunitas seperti ini disarankan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin siap memberikan pertolongan awal pada kasus henti jantung dan henti napas, sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat henti jantung di luar fasilitas kesehatan.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kegawatdaruratan, terutama henti jantung dan henti napas, perlu dilakukan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) secara berkelanjutan. Pelatihan ini dapat difokuskan pada kelompok masyarakat yang memiliki peran strategis dalam penggerakan masyarakat, seperti perangkat nagari, kader posyandu, dan ibu-ibu PKK. Selain itu, pelatihan BHD juga dapat diperluas untuk mencakup kelompok pemuda sebagai kelompok sosial aktif dan potensial untuk diberdayakan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih siap dan mampu memberikan pertolongan awal yang tepat dan cepat saat menghadapi kasus henti jantung dan henti napas di lingkungan sekitarnya.

Read online
File size431.83 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test