IIQIIQ

Al-Fanar : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan TafsirAl-Fanar : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Artikel ini berbicara tentang mendengar dalam Al-Quran berdasarkan analisis Tanthawi Jawhari terhadap keistimewaan as-Samu dengan tafsir al-Jawahir. Potensi pancaindra yang dianugrahkan Allah Swt. kepada manusia, malah mengarah ke dalam jurang kesesatan. Indra pendengaran, berperan dalam kehidupan manusia untuk merefleksikan ulang potensi tersebut agar tercipta kebaikan semata. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif analisis yang diperoleh melalui library research, dengan sumber yang relevan dan realibel seperti buku, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, dan sebagainya. Sebelum memperoleh pemahaman implikatif dalam penelitian ini, penulis memaparkan dahulu biografi Tanthawi Jawhari, dan profil kitab tafsirnya. Secara implisit, hal ini begitu reflektif, karena mampu mengungkap kebenaran dibalik hakikat ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam pemaknaan-pemaknaan aksesoris pada Al-Quran. Rangkaian itu, keistimewaan as-Samu dalam Al-Quran yang difokuskan pada QS. an-Nahl [16]: 78, dalam tafsir al-Jawahir menitik beratkan kedudukannya sebagai qulūbun yaqilūna, yang pada dasarnya sudah masuk dalam penelitian ini dengan mengkoordinasi secara sistematik dengan merefleksikan dalam bersyukur atas nikmat Allah Swt. yang sebenarnya harus ditopang dengan pengetahuan.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa keistimewaan as-Samu (pendengaran) dalam QS.78, menurut tafsir al-Jawahir, memiliki kedudukan sebagai hati yang berakal (qulūbun yaqilūna), sama halnya dengan penglihatan dan hati, yang semuanya bertujuan untuk mensyukuri nikmat Allah SWT.Melalui indra pendengaran, penglihatan, dan hati, manusia dimampukan untuk memahami dirinya sendiri serta rahasia alam, dengan menelaah ilmu pengetahuan.Pemahaman ini menjadi pondasi bagi syukur yang sejati, yang selalu ditopang oleh pengetahuan mendalam.

Penelitian ini membuka wawasan mengenai pentingnya indra pendengaran (as-Samu) dalam Al-Quran, khususnya melalui lensa Tafsir al-Jawahir. Namun, ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk memperdalam pemahaman ini. Sebagai contoh, akan sangat menarik jika ada studi lanjutan yang membandingkan penafsiran Tanthawi Jawhari tentang keistimewaan as-Samu dengan ulama tafsir lain yang memiliki corak saintifik modern, atau bahkan dengan tafsir klasik yang berbeda. Ini akan membantu kita melihat apakah ada variasi dalam memahami peran pendengaran dalam proses manusia mencapai pengetahuan dan rasa syukur kepada Tuhan. Selain itu, karena QS. An-Nahl [16]: 78 juga menyebutkan penglihatan (al-Abṣār) dan hati (al-Afidah) secara berdampingan, studi masa depan bisa mengeksplorasi bagaimana ketiga indra ini saling berinteraksi dan membentuk kesatuan dalam perolehan ilmu dan pemahaman. Apakah ada hierarki atau ketergantungan tertentu antara pendengaran, penglihatan, dan hati dalam perspektif Al-Quran secara keseluruhan? Lebih jauh lagi, dengan memahami secara mendalam peran as-Samu dalam Al-Quran sebagai fondasi pengetahuan, bagaimana kita bisa merumuskan model pendidikan atau prinsip-prinsip komunikasi yang efektif, yang tidak hanya mengandalkan penerimaan informasi secara pasif tetapi juga mendorong pemahaman aktif dan reflektif seperti yang diisyaratkan oleh ayat ini, khususnya dalam menghadapi era banjir informasi saat ini?.

Read online
File size445.82 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test