UNMER BAYAUNMER BAYA

Agricultural ScienceAgricultural Science

Ekosistem mangrove memainkan peran penting dalam melindungi daerah pesisir dari erosi, gelombang, dan gangguan lingkungan lainnya. Namun, tekanan antropogenik yang meningkat, termasuk perluasan akuakultur, pengembangan pemukiman, dan konversi penggunaan lahan, mengancam keberlanjutannya. Studi sebelumnya umumnya menilai kesehatan mangrove atau kerentanan secara terpisah, sehingga memberikan wawasan terbatas tentang hubungan antara kondisi ekosistem dan ancaman potensial. Studi ini mengatasi kesenjangan ini dengan mengintegrasikan Indeks Vegetasi yang Disesuaikan dengan Tanah (SAVI) dan Analisis Keputusan Multi-Kriteria (MCDA) untuk mengevaluasi kesehatan mangrove, kerentanan spasial, dan hubungan mereka di Desa Tolongano, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Integrasi SAVI dan MCDA menawarkan kerangka kerja baru untuk mengidentifikasi area mangrove yang sehat tetapi tetap terpapar tekanan antropogenik yang signifikan. Menggunakan citra Landsat 8/9, data penggunaan lahan, dan validasi lapangan di 45 titik sampel, kesehatan mangrove diklasifikasikan menjadi sehat (72,78 ha; 52,47%), sedang (32,82 ha; 23,66%), dan tidak sehat/terdegradasi (33,11 ha; 23,87%). Akurasi klasifikasi tinggi, dengan Akurasi Keseluruhan sebesar 97,78% dan Koefisien Kappa sebesar 0,98. Analisis kerentanan menunjukkan bahwa 87,40% area mangrove dikategorikan sebagai sangat rentan, terutama karena kedekatan dengan kolam akuakultur. Analisis korelasi menghasilkan hubungan negatif lemah (r = -0,2390) antara kesehatan mangrove dan kerentanan. Hasil ini menunjukkan bahwa hutan mangrove yang sehat mungkin masih menghadapi ancaman masa depan yang signifikan. Pendekatan SAVI-MCDA menyediakan alat praktis untuk prioritas konservasi, perencanaan ruang pesisir, dan pengelolaan mangrove jangka panjang.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut.Indeks kesehatan hutan mangrove di lokasi penelitian didominasi oleh kategori sehat dan sedang.Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi mangrove tetap dalam kondisi baik dan terpelihara dengan persentase di atas 50 persen.Kerentanan hutan mangrove didominasi oleh kategori sangat tinggi, yang mencakup area seluas 121,23 ha atau 87,40 persen dari total area mangrove seluas 138,7 ha.Sementara itu, kategori tinggi mencakup area seluas 17,48 ha atau 12,60 persen.Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar area mangrove berada dalam kondisi rentan akibat gangguan antropogenik (pemukiman, kolam ikan, dan sawah).Hubungan antara kerentanan dan kesehatan mangrove menunjukkan bahwa tingkat kerentanan yang tinggi tidak selalu berkorelasi langsung dengan kesehatan vegetasi yang buruk, dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,2390.Sebagian besar area yang diklasifikasikan sebagai sangat rentan sebenarnya masih menunjukkan kondisi kesehatan yang baik.Hal ini menunjukkan bahwa indeks kerentanan yang digunakan dalam penelitian ini dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi vegetasi tetapi juga oleh berbagai tekanan lingkungan yang dapat mengancam kelestarian ekosistem mangrove di masa depan.Distribusi kerentanan hutan mangrove saat ini di Desa Tolongano, Kecamatan Banawa Selatan terdiri dari tingkat kerentanan sangat tinggi dan tinggi, sedangkan distribusi kesehatan mangrove terdiri dari kategori sehat, sedang, dan tidak sehat.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: 1. Perlu dilakukan peningkatan pengelolaan dan perlindungan berkelanjutan terhadap area mangrove, terutama di daerah dengan tingkat kerentanan sangat tinggi. Pengendalian perubahan penggunaan lahan, perencanaan zona pesisir, dan pemantauan aktivitas pemukiman, akuakultur, dan pertanian di sekitar hutan mangrove perlu diperkuat untuk mengurangi tekanan antropogenik terhadap ekosistem mangrove. 2. Perlu dilakukan peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif dalam menjaga kelestarian hutan mangrove melalui konservasi, rehabilitasi, dan pemanfaatan sumber daya pesisir yang ramah lingkungan. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat mendukung kelestarian fungsi ekologis dan ekonomi ekosistem mangrove. 3. Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan pengelolaan zona pesisir dan menentukan prioritas konservasi. Area dengan tingkat kerentanan sangat tinggi harus menjadi fokus utama program rehabilitasi dan upaya mitigasi dampak aktivitas manusia. 4. Pengembangan analisis kerentanan mangrove dengan memasukkan parameter biophysikal dan lingkungan tambahan, seperti erosi pesisir, fluktuasi pasang surut, salinitas, kualitas air, perubahan garis pantai, kepadatan populasi, dan faktor perubahan iklim. Selain itu, penggunaan citra satelit dengan resolusi spasial yang lebih tinggi dan metode penentuan bobot yang lebih komprehensif.

Read online
File size1.15 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test