ITKAITKA

SAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan KesehatanSAINTEKES: Jurnal Sains, Teknologi Dan Kesehatan

Remaja putri termasuk santriwati merupakan salah satu kelompok umur yang berisiko mengalami anemia zat besi. Dampak selanjutnya anemia gizi besi dapat lebih serius karena remaja putri nantinya akan hamil dan melahirkan anak. Anemia pada remaja putri ini jika tidak diatasi dengan baik secara dini sehingga menikah dan hamil dapat meningkatkan bahaya kematian ibu dan kelahiran prematur (Kemenkes RI , 2018). Disamping itu WHO juga menyampaikan bahwa anemia zat besi juga merupakan penyebab terjadinya kematian bayi pada negara-negara dengan kematian bayi yang tinggi. Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan kondisi kekurangan zat gizi ini dapat tumbuh dan berkembang tidak sesuai usianya, salah satunya dapat menyebabkan terjadinya stunting. Berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin kepada 64 santriwati di Pondok pesantren Al Muttaqin didapatkan hasil bahwa santriwati dengan anemia ringan sebesar 25%, anemia sedang 25 % dan anemia berat sebesar 1,6%, sedangkan santriwati yang memiliki kadar hemoglobin normal sebesar 48,4%. Oleh karena itu pemberian Komunikasi -Informasi-Edukasi perlu dilakukan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku santriwati tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Metode Komunikasi -Informasi-Edukasi yang diterapkan adalah ceramah dan diskusi dengan media Tablet Tambah Darah pada sistem pembelajaran tatap muka. Hasil dari pemberian Komunikasi -Informasi-Edukasi ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku santriwati tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia.

Pemberian Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku santriwati terkait konsumsi tablet tambah darah (TTD) untuk pencegahan anemia.Untuk memperkuat upaya ini, diperlukan dukungan instansi terkait dalam penegakan konsumsi TTD serta pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala pada remaja putri.Selain itu, pemberdayaan kader kesehatan remaja sebagai pengawas rutin konsumsi TTD sangat penting untuk keberlanjutan program pencegahan anemia di pondok pesantren.

Penelitian ini menunjukkan keberhasilan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku santriwati terkait konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) untuk mencegah anemia. Namun, penting untuk memahami lebih lanjut keberlanjutan perubahan ini. Oleh karena itu, sebuah studi longitudinal dapat dilakukan untuk mengukur efektivitas jangka panjang program KIE ini, misalnya dengan memantau status hemoglobin dan kepatuhan konsumsi TTD pada santriwati setelah enam bulan atau satu tahun pasca-intervensi, serta mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan perilaku positif tersebut. Selain itu, mengingat peran penting dukungan lingkungan, penelitian berikutnya bisa menyelidiki secara komparatif efektivitas model KIE yang berbeda, seperti program yang melibatkan pelatihan kader kesehatan remaja sebagai agen edukasi sebaya, atau integrasi KIE berbasis digital, dibandingkan dengan metode ceramah konvensional. Tujuannya adalah untuk menemukan pendekatan yang paling efektif dan efisien dalam menjangkau dan mempertahankan partisipasi santriwati. Terakhir, untuk melengkapi pemahaman, studi kualitatif mendalam sangat relevan untuk menggali persepsi, hambatan, dan motivasi santriwati secara langsung terkait konsumsi TTD rutin. Penelitian ini dapat mengidentifikasi faktor-faktor personal, sosial, dan institusional yang lebih mendalam, seperti stigma, rutinitas pondok, atau dukungan dari pengelola, yang mungkin mempengaruhi kepatuhan mereka, sehingga rekomendasi kebijakan dan intervensi di masa depan dapat dirancang dengan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan anemia di lingkungan pesantren.

Read online
File size219.82 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test