ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang BunyiKeteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi

Penelitian ini menyelidiki praktik gender performance (garap gender) dalam Miling, sebuah gendhing kethuk 4 awis minggah 8 dalam pelog pathet nem, dengan perhatian khusus pada strategi musik yang digunakan untuk menyesuaikan modulasi dari slendro pathet manyura ke pelog pathet nem. Topik ini layak mendapat perhatian akademis karena terbatasnya literatur yang membahas praktik gender performance dalam konteks transisi modal dan pathet dalam komposisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan prinsip garap gender yang digunakan dalam menafsirkan struktur balungan dan karakteristik pathet yang tertanam dalam karya tersebut. Desain penelitian kualitatif digunakan, dengan memanfaatkan observasi, tinjauan pustaka, dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Analisisnya dipandu oleh konsep garap Rahayu Supanggah, dengan fokus pada dimensi tafsir pathet, tafsir cengkok, wiledan, dinamika, dan rambatan. Temuan menunjukkan bahwa praktik gender performance dalam Miling tidak sepenuhnya mengikuti karakteristik pathet tunggal utama. Kehadiran struktur balungan yang mencakup pathet nem dan pathet sanga mengharuskan para penampil menyesuaikan interpretasi cengkok mereka sesuai dengan tuntutan musik kontekstual. Akibatnya, kontinuitas karakter musik gending dipertahankan melalui negosiasi kreatif antara struktur balungan, orientasi pathet utama, dan konvensi praktis garap gender.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa garap gender dalam Miling, gendhing kethuk 4 awis minggah 8, tidak hanya dapat dipahami sebagai penerapan teknik instrumen, tetapi sebagai proses interpretasi musik yang melibatkan negosiasi antara struktur balungan, orientasi pathet, pemilihan cengkok, dan pertimbangan estetika dalam praktik pertunjukan.Analisis biang pathet mengungkapkan bahwa meskipun Miling secara konvensional diklasifikasikan sebagai komposisi slendro pathet manyura, struktur melodi karyanya mengandung indikasi pathet sanga dan pathet nem.Temuan ini menunjukkan bahwa identitas pathet dalam karawitan Jawa lebih dinamis dan tergantung konteks daripada yang disiratkan oleh klasifikasi modal yang tetap.Dengan menggunakan konsep garap, biang pathet, dan mungguh, penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi Miling dari slendro pathet manyura ke pelog pathet nem dapat dicapai tanpa mengorbankan kohesi musik komposisi.Transformasi ini memerlukan rekonstruksi hubungan antara cengkok, seleh, wiledan, dan rambatan, sehingga menempatkan garap gender sebagai mekanisme kritis untuk menjaga kontinuitas musik sambil memungkinkan kemungkinan interpretasi baru.Dalam hal ini, alih laras harus dipahami bukan hanya sebagai transposisi nada, tetapi sebagai proses reinterpretasi modal yang menggabungkan penalaran analitis dengan pengambilan keputusan artistik.Dalam konteks yang lebih luas dari penelitian musik tradisional global kontemporer, penelitian ini berkontribusi pada diskusi berkelanjutan mengenai hubungan antara tradisi, kreativitas, dan praktik pertunjukan.Sejalan dengan perspektif etnomusikologis kontemporer yang melihat tradisi musik sebagai sistem pengetahuan dinamis daripada artefak budaya statis, temuan menunjukkan bahwa inovasi dapat muncul melalui keterlibatan kritis dengan logika internal tradisi itu sendiri.Artikel ini mengusulkan bahwa pathet harus dipahami bukan hanya sebagai kerangka modal, tetapi juga sebagai konstruk performatif yang terus dibentuk melalui garap.Perspektif ini membuka jalan baru untuk penelitian tentang fleksibilitas modal, reinterpretasi repertoar, dan peran praktik pertunjukan dalam konstruksi identitas musik di berbagai tradisi musik.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah beberapa saran untuk penelitian lanjutan:. . 1. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menyelidiki praktik gender performance dalam konteks transisi modal dan pathet yang berbeda dalam komposisi musik Jawa. Ini akan membantu memahami bagaimana penyesuaian dan negosiasi dilakukan dalam situasi yang berbeda, dan bagaimana hal itu mempengaruhi interpretasi dan pengalaman musik.. . 2. Ada kebutuhan untuk mengeksplorasi lebih lanjut konsep garap dan bagaimana itu berfungsi sebagai sistem interpretatif kreatif dalam karawitan Jawa. Penelitian ini dapat berfokus pada bagaimana garap memungkinkan penampil untuk secara aktif membangun makna musik dan menyesuaikan diri dengan konteks pertunjukan yang berbeda.. . 3. Penelitian juga dapat dilakukan untuk menganalisis peran dan fungsi wiledan dan rambatan dalam praktik gender performance. Ini akan membantu memahami bagaimana elemen-elemen ini digunakan untuk mempertahankan kohesi modal dan estetika dalam transformasi modal, serta bagaimana mereka berkontribusi pada ekspresi artistik dan interpretasi musik.

  1. KREATIVITAS RAHAYU SUPANGGAH PADA FILM OPERA JAWA KARYA GARIN NUGROHO | Acintya. kreativitas rahayu supanggah... jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/acintya/article/view/3580KREATIVITAS RAHAYU SUPANGGAH PADA FILM OPERA JAWA KARYA GARIN NUGROHO Acintya kreativitas rahayu supanggah jurnal isi ska ac index php acintya article view 3580
Read online
File size462.71 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test