STAIRAYASTAIRAYA

Al-Bustan: Jurnal Studi Islam dan Sosial KeagamaanAl-Bustan: Jurnal Studi Islam dan Sosial Keagamaan

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena “banalisasi yang sakral di ruang publik digital Indonesia, di mana agama beralih fungsi dari penyedia nilai moral absolut menjadi identitas. Dengan menggunakan kerangka hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer dan Paul Ricoeur, artikel ini menganalisis bagaimana teks keagamaan mengalami transformasi makna saat memasuki hiruk-pikuk media sosial. Melalui studi kasus diskursus keagamaan viral, penelitian ini menemukan tiga momen hermeneutis yang krusial: distansiasi, di mana teks tercerabut dari konteks dan niat asli penulisnya; benturan cakrawala, yang merepresentasikan kegagalan dialog antara tradisi keagamaan dan modernitas; serta appropriasi, di mana individu mengadopsi tafsir keagamaan semata-mata untuk mengonstruksi citra publik. Temuan utama menunjukkan bahwa konflik moral keagamaan di media sosial bukan sekadar perbedaan pendapat teologis, melainkan simptom dari krisis epistemologis yang lebih dalam di era pasca-otoritas. Agama mengalami proses banalisasi, di mana otoritas tafsir bergeser dari lembaga formal ke tangan netizen, mengubah sakralitas menjadi repertoar simbol untuk panggung identitas digital.

Penelitian ini mengangkat keprihatinan kritis tentang pergeseran interpretasi keagamaan di ruang publik digital, mengidentifikasi konflik moral daring sebagai pertarungan hermeneutik yang melibatkan tiga tahap.distansiasi radikal, benturan horizon, dan apropriasi makna yang menjadikan interpretasi simbol identitas.Temuan utama menunjukkan krisis epistemologis mendalam, bukan sekadar krisis otoritas, serta mengakui keterbatasan studi pada media berbasis teks dan visual, sehingga menekankan kebutuhan penelitian etnografi digital khususnya pada media audio seperti podcast.Karena itu, tugas mendesak bagi akademisi dan praktisi adalah mengembangkan etika hermeneutik baru yang menghargai keberagaman horizon, bukan mencari interpretasi tunggal, guna menciptakan ruang dialog yang inklusif.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana platform audio seperti podcast memediasi proses hermeneutik keagamaan, dengan mengkaji interaksi pendengar dan pembicara serta dampaknya terhadap pembentukan horizon interpretatif; selanjutnya, studi komparatif antara konten keagamaan yang tersebar di platform visual (misalnya TikTok) dan teks tertulis (misalnya blog) dapat mengungkap perbedaan pola distansiasi dan apropriasi serta implikasinya bagi otoritas religius; terakhir, penelitian etnografi digital yang berfokus pada komunitas daring yang secara aktif menciptakan “identitas digital religius dapat mengeksplorasi strategi resistensi atau akomodasi mereka terhadap fenomena banalisasi sakral, sehingga memperluas pemahaman tentang dinamika identitas dan kekuasaan dalam konteks media sosial yang terus berkembang.

  1. Konsumerisme Agama: Bara Konflik Konservatisme Agama dan Arah Baru Penanganannya | VOX POPULI. konsumerisme... doi.org/10.24252/vp.v6i1.35213Konsumerisme Agama Bara Konflik Konservatisme Agama dan Arah Baru Penanganannya VOX POPULI konsumerisme doi 10 24252 vp v6i1 35213
  2. Memahami Pancasila dalam Algoritma Media Sosial: Analisis Wacana Digital Tentang Ideologi Bangsa | Jembatan... doi.org/10.62383/jembatan.v2i2.1602Memahami Pancasila dalam Algoritma Media Sosial Analisis Wacana Digital Tentang Ideologi Bangsa Jembatan doi 10 62383 jembatan v2i2 1602
Read online
File size217.62 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test