GREENATIONPUBLISHERGREENATIONPUBLISHER

Jurnal Greenation Ilmu AkuntansiJurnal Greenation Ilmu Akuntansi

Perkembangan pesat teknologi informasi telah menggeser kompetisi bisnis dari basis industri menjadi kompetisi berbasis informasi, sehingga perusahaan dituntut untuk menerapkan Balanced Scorecard (BSC) secara komprehensif dalam manajemen sumber daya manusia, khususnya pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan di perusahaan infrastruktur telekomunikasi. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan pendekatan survei dan melibatkan 44 karyawan tingkat manajerial di PT. Persada Sokka Tama. Empat variabel utama yang dianalisis meliputi kepuasan kerja karyawan, program pelatihan, tingkat turnover karyawan, dan pengembangan jalur karier sebagai prediktor kinerja sumber daya manusia. Analisis data menggunakan regresi berganda dengan SPSS 16.0 dan menghasilkan bahwa variabel‑variabel perspektif pembelajaran dan pertumbuhan secara kolektif menjelaskan 86,3 % variasi kinerja sumber daya manusia (Adjusted R² = 0,863). Kepuasan kerja karyawan terbukti menjadi faktor paling dominan (β = 0,743, p < 0,001), diikuti oleh pengembangan jalur karier (β = 0,232, p < 0,05). Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa penerapan BSC dalam manajemen sumber daya manusia dapat secara efektif meningkatkan kinerja organisasi melalui fokus strategis pada pengembangan dan kepuasan karyawan. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan menunjukkan aplikasi praktis BSC dalam konteks pasar berkembang serta memberikan wawasan operasional bagi praktisi HR di industri telekomunikasi.

Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa penerapan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dalam Balanced Scorecard secara signifikan memengaruhi kinerja sumber daya manusia pada industri telekomunikasi, dengan model menjelaskan 86,3 % variasi kinerja HR.Faktor kepuasan kerja karyawan menjadi faktor paling dominan, diikuti oleh pengembangan jalur karier, menunjukkan bahwa investasi pada kesejahteraan dan pengembangan karier karyawan merupakan imperatif strategis dalam manajemen HR.Meskipun hasil terbatas pada satu perusahaan, penelitian selanjutnya dapat menguji penerapan BSC di sektor lain atau menggunakan desain longitudinal untuk menilai keberlanjutan implementasinya.

Dengan mempertimbangkan keterbatasan generalisasi yang hanya mencakup satu perusahaan dalam industri telekomunikasi, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi bagaimana penerapan Balanced Scorecard pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan memengaruhi kinerja sumber daya manusia di sektor‑sektor lain, seperti manufaktur, layanan keuangan, atau sektor publik, sehingga dapat menguji validitas temuan secara lintas industri dan mengidentifikasi faktor kontekstual yang mungkin berperan. Selanjutnya, studi longitudinal yang melacak implementasi BSC selama periode lima hingga sepuluh tahun dapat menilai keberlanjutan dampak variabel‑variabel seperti kepuasan kerja, turnover, dan pengembangan jalur karier terhadap kinerja HR, serta mengidentifikasi dinamika perubahan faktor‑faktor tersebut seiring waktu dan hubungannya dengan hasil bisnis jangka panjang. Selain itu, penelitian yang fokus pada penyelarasan program pelatihan dengan kebutuhan pekerjaan spesifik dapat menyelidiki apakah peningkatan relevansi dan kualitas pelatihan akan meningkatkan signifikansi pengaruhnya terhadap kinerja HR, mengingat hasil saat ini menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan, dan dapat mengembangkan model pelatihan yang lebih terpersonalisasi. Dengan menjawab pertanyaan‑pertanyaan tersebut, kontribusi teoretis dan praktis mengenai strategi manajemen sumber daya manusia berbasis Balanced Scorecard dapat diperkuat, memberikan panduan yang lebih robust bagi organisasi dalam mengoptimalkan investasi pada pengembangan karyawan.

Read online
File size151.07 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test