UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Makam Soekarno di Blitar setiap hari ramai dikunjungi peziarah dari berbagai agama. Tempat ini telah menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Pemerintah Blitar juga setiap tahun memfasilitasi kegiatan doa lintas agama yang dilakukan empat kali setahun sebagai simbol menumbuhkan semangat toleransi. Ketika peziarah mengadakan ritual doa, terbentuk thirdspace sebagai ruang interaksi sosial yang berada di antara ruang pertama dan ruang kedua. Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan ontologis tentang pemahaman perjumpaan peziarah lintas agama yang membentuk thirdspace di Makam Soekarno. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan melalui kajian literatur, pengamatan, dan wawancara mendalam di Kawasan Makam Soekarno, Blitar. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perjumpaan lintas agama pada ziarah di Makam Soekarno menciptakan konstruksi thirdspace menurut teori Edward Soja yang dapat diterapkan pada tingkat individu, kelembagaan, dan masyarakat. Berdasarkan temuan tersebut, argumentasi utamanya adalah bahwa konstruksi thirdspace Soja menjadi kerangka berpikir dalam rangka membangun perekat sosial. Konstruksi thirdspace membentuk manusia untuk dapat berinteraksi sosial dengan baik yang menghubungkan berbagai karakter dan sifat yang berbeda-beda.

Tulisan ini menjabarkan bahwa konstruksi thirdspace sebagai suatu yang dinamis, dibentuk oleh berbagai aspek terkait yaitu ekonomi, politik, dan budaya.Thirdspace di Makam Soekarno sebagai ruang perjumpaan antar umat beragama yang penuh damai ketika melakukan doa bersama pada ruang yang sama, sesuai kerangka berpikir dari Soja dan Lefebvre mengenai konsep ruang yang dialog lintas agama peziarah.Konstruksi ruang ketiga menjadi solusi penting bagi negara Indonesia yang rawan konflik bernuansa keagamaan.Teori keterlibatan agama dalam kehidupan sosial seharusnya membawa suasana perdamaian sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan kasih dan kedamaian.Agama menurut Nancy Ammerman merupakan ajaran dalam keterlibatan sosial yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.Penulis menemukan bahwa konstruksi thirdspace para peziarah berlatar belakang dari agama Islam, Kristen, katolik, Buddha, Hindu, Konghucu, dan berbagai aliran kepercayaan lokal di Makam Soekarno merupakan solusi penting dalam mengatasi konflik antaragama.Beberapa kegiatan yang dilakukan baik setiap hari maupun dalam acara khusus yang melibatkan semua agama di Makam Soekarno berfungsi sebagai thirdspace yang membangun perekat sosial.Thirdspace sebagai ruang sosial dalam perkembangannya dilihat sebagai ruang interaksi aktif maupun pasif para peziarah di Makam Soekarno.Makam Soekarno selain sebagai ruang yang dianggap sakral, telah menjadi konstruksi ruang ketiga melalui perjumpaan lintas agama sebagai perekat sosial.Konstruksi thirdspace adalah juga merupakan bentuk konsep transenden hingga mencakup yang lain, memungkinkan kontestasi dan negosiasi ulang batas-batas dan identitas budaya.Praktik dialog lintas iman tercipta di Makam Soekarno yang menciptakan kerukunan dan keharmonisan sosial.Keberadaan ruang ketiga menjadi ruang bagi kehidupan masyarakat beragama untuk hidup berdampingan yang saling menghormati.Bagi Soja dan Lefebvre thirdspace sebagai cara lain untuk memahami dan bertindak untuk mengubah spasialitas kehidupan manusia.Konstruksi thirdspace terbentuk di makam Soekarno telah memberikan rasa nyaman sehingga interaksi sosial menjadi perekat sosial.Masih banyak tempat yang dikunjungi peziarah di Indonesia yang seharusnya dapat difasilitasi oleh pemerintah sebagai ruang perjumpaan lintas iman.Melihat potensi yang ada, kita memiliki sangat banyak situs-situs kuno dan tempat wisata modern yang seharusnya menjadi konstruksi thirdspace.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam tentang bagaimana konstruksi thirdspace dapat diterapkan pada tingkat individu, kelembagaan, dan masyarakat secara lebih spesifik. Kedua, penelitian dapat fokus pada bagaimana thirdspace dapat menjadi kerangka berpikir dalam membangun perekat sosial dan bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana thirdspace dapat menjadi solusi dalam mengatasi konflik antaragama dan bagaimana praktik dialog lintas iman dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan sosial. Dengan melakukan penelitian lanjutan ini, kita dapat lebih memahami konsep thirdspace dan aplikasinya dalam konteks sosial dan keagamaan di Indonesia.

  1. Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno | ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan... ojs.ukim.ac.id/index.php/arumbae/article/view/1268Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno ARUMBAE Jurnal Ilmiah Teologi dan ojs ukim ac index php arumbae article view 1268
Read online
File size495.64 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test