UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Politik emosi dapat menjadi strategi yang efektif untuk membangun dukungan atau mengarahkan opini publik. Selain itu juga bisa menciptakan polarisasi dan menyebabkan ketidakstabilan sosial jika dimanipulasi dengan tidak bertanggung jawab. Politik emosi menjadi salah satu alat bagi penguasa untuk menjalankan dan mencapai tujuannya dalam hal melemahkan atau mengintimidasi pihak lain. Pemanfaatan politik emosi dilakukan oleh oknum penguasa, seperti Ketua RT, pada kasus persekusi mahasiswa Universitas Pamulang, Tangerang Selatan yang sedang mengadakan doa Rosario di kost. Studi ini menggunakan pendekatan studi pustaka dengan melakukan tinjauan literatur dalam menganalisis politik emosi oknum penguasa memobilisasi emosi warga untuk mengintimidasi kelompok minoritas. Hasil penelitian menunjukkan kerukunan umat beragama di lingkup Rukun Tetangga (RT) masih menjadi “pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Praktik intoleransi diikuti kekerasan verbal maupun fisik masih menjadi isu pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) di konteks negara Indonesia yang berbasis Pancasila.

Persekusi mahasiswa Katolik di Tangerang Selatan menunjukkan bagaimana politik emosi dapat memobilisasi emosi kolektif, menimbulkan ketegangan sosial, polarisasi, dan pelanggaran hak asasi manusia.Insiden ini menyoroti peran aktor politik dalam memperkuat dominasi dan intoleransi terhadap minoritas.Untuk mencegah konflik berulang, diperlukan pembangunan toleransi terbuka, solidaritas komunitas, dan penegakan hukum yang tegas.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji mekanisme psikologis yang memediasi peran politik emosi dalam memobilisasi warga di tingkat RT, guna memahami faktor-faktor yang memperkuat atau melemahkan intoleransi. Studi longitudinal tentang dampak intervensi kebijakan penegakan hukum terhadap perubahan pola persepsi komunitas akan memperkaya pengetahuan tentang strategi pencegahan konflik. Penelitian komparatif lintas wilayah Indonesia dapat mengidentifikasi perbedaan konteks sosial budaya yang memengaruhi keberhasilan upaya rekonsiliasi, sehingga rekomendasi kebijakan dapat disesuaikan secara lokal.

  1. Pelindung yang Menyandung: Menelisik Politik Emosi Kasus Persekusi Mahasiswa Katolik di Tangerang Selatan... ojs.ukim.ac.id/index.php/arumbae/article/view/1326Pelindung yang Menyandung Menelisik Politik Emosi Kasus Persekusi Mahasiswa Katolik di Tangerang Selatan ojs ukim ac index php arumbae article view 1326
Read online
File size1.24 MB
Pages24
DMCAReport

Related /

ads-block-test