LPPMUNSERALPPMUNSERA

Jurnal Sistem dan Manajemen IndustriJurnal Sistem dan Manajemen Industri

Kecelakaan kerja merupakan masalah yang perlu dipertimbangkan secara serius di Indonesia. Jumlah kecelakaan kerja meningkat secara signifikan dari 96.314 pada tahun 2009 menjadi 110.285 pada tahun 2015. Tingkat mortalitas pada kasus tersebut sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan indeks kebugaran kerja harian sebagai ukuran untuk memastikan bahwa pekerja dapat bekerja secara efektif dan aman. Tinjauan pustaka sistematis telah dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (1) penentuan strategi pencarian dan proses pencarian, (2) penetapan kriteria pencarian, (3) kontrol kualitas literatur, dan (4) penyimpulan. Eksperimen melibatkan empat responden yang dibagi menjadi dua kelompok: pekerja shift malam dan pekerja shift pagi. Total waktu tidur, denyut jantung saat istirahat, waktu reaksi, dan berat badan dicatat selama eksperimen. Indeks kebugaran kerja harian telah dikembangkan dengan mempertimbangkan faktor kecukupan tidur, faktor gangguan siklus sirkadian, dan faktor individu. Indeks tersebut menunjukkan korelasi yang kuat dengan pengukuran kesiapan kerja secara subyektif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa indeks kebugaran kerja harian dapat dipercaya sebagai ukuran kebugaran kerja.

Indeks Kesiapan Kerja Harian berhasil dikembangkan dan dapat menilai kelayakan pekerja berdasarkan faktor kecukupan tidur, gangguan siklus sirkadian, serta faktor individu, dengan rumus yang ditunjukkan pada Persamaan VII.Indeks ini menunjukkan korelasi kuat dengan pengukuran kesiapan kerja secara subyektif, sehingga dapat dipercaya sebagai ukuran kebugaran kerja.Nilai indeks di bawah 60 % mengindikasikan risiko kelelahan dan potensi kecelakaan kerja, sehingga 60 % dijadikan ambang batas kelayakan.

Penelitian selanjutnya dapat memperluas sampel penelitian dengan melibatkan pekerja dari berbagai sektor industri dan meningkatkan jumlah partisipan agar dapat menguji keandalan Indeks Kesiapan Kerja Harian pada populasi yang lebih representatif. Selain itu, pengembangan sistem pemantauan berbasis perangkat wearable, seperti actigraphy dan pengukuran variabilitas denyut jantung, dapat diintegrasikan ke dalam model indeks untuk memperoleh data fisiologis secara real‑time dan meningkatkan akurasi penilaian kesiapan kerja. Studi longitudinal yang memantau nilai indeks selama periode waktu yang lebih lama, misalnya satu tahun, serta mencatat insiden kecelakaan kerja aktual, dapat mengungkap hubungan kausal antara penurunan indeks dan peningkatan risiko kecelakaan. Selanjutnya, analisis perbandingan antara shift malam, pagi, dan rotasi shift dapat memberikan wawasan tentang bagaimana gangguan siklus sirkadian mempengaruhi nilai indeks serta strategi mitigasi yang paling efektif. Akhirnya, penerapan algoritma pembelajaran mesin untuk memprediksi nilai indeks berdasarkan kombinasi faktor individu, pola tidur, dan kondisi lingkungan kerja dapat mempercepat deteksi dini pekerja yang berisiko tinggi dan mendukung kebijakan manajemen keselamatan kerja yang lebih proaktif.

  1. Studi Pendahuluan Untuk Pengembangan Indeks Kesiapan Kerja Harian | Jurnal Sistem dan Manajemen Industri.... e-jurnal.lppmunsera.org/index.php/JSMI/article/view/608Studi Pendahuluan Untuk Pengembangan Indeks Kesiapan Kerja Harian Jurnal Sistem dan Manajemen Industri e jurnal lppmunsera index php JSMI article view 608
Read online
File size352.14 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test