ITYITY

Environmental Insight JournalEnvironmental Insight Journal

ISPA sering menjadi penyakit dengan jumlah penderita tertinggi. Pada tahun 2022, Puskesmas Nuha mencatat 3759 kasus ISPA, menempatkannya sebagai penyakit terbanyak. Kualitas udara dan kondisi curah hujan, dapat mempengaruhi kesehatan dan jumlah kasus ISPA. Curah hujan membantu menurunkan konsentrasi polutan udara melalui deposisi basah. Penelitian ini mengkaji korelasi antara curah hujan, kualitas udara, dan tingginya penderita ISPA di Sorowako. Penelitian ini menggunakan metode potong lintang, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mempelajari dinamika hubungan antar a faktor risiko dengan efek. Kualitas udara dinilai berdasarkan konsentrasi SO2, PM10, PM2,5 dan tingkat curah hujan yang kemudian dihubungkan dengan penyakit ISPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan di Sorowako pada tahun 2022 hingga 2023 adalah sebesar 247,30 mm per bulan. Sedangkan rata-rata konsentrasi PM2,5 adalah 19,48 μg/m3, PM10 adalah 22,18 μg/m3 dan SO2 sebesar 8,99 μg/m3. Rata - rata penderita penyakit ISPA per bulan di Sorowako pada rentang tersebut adalah sebanyak 292 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara beberapa parameter kualitas udara dengan kejadian penyakit ISPA. Pengaruh curah hujan juga tidak secara signifikan menjelaskan variabilitas dalam kejadian ISPA. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat faktor lain yang dapat berkontribusi pada kejadian ISPA.

Dari analisis yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara konsentrasi SO₂, PM10, atau PM2,5 dengan kejadian ISPA.Ini mungkin menunjukkan bahwa udara polutan ini tidak secara langsung mempengaruhi kejadian ISPA di wilayah Sorowako.Hasil regresi juga menunjukkan bahwa model yang menggabungkan curah hujan dan konsentrasi udara polutan tidak secara signifikan menjelaskan variabilitas dalam kejadian ISPA.Ini mengindikasikan bahwa kemungkinan ada faktor lain selain udara polutan yang diukur, dapat berkontribusi pada kejadian penyakit ISPA.Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan kajian lanjutan yang mencakup evaluasi sistem pengendalian emisi di PT.untuk menilai efektivitasnya dalam menjaga kualitas udara ambien dan kajian lanjut terhadap variabel lain seperti kepadatan hunian, tingkat kebersihan lingkungan, kebiasaan merokok, status gizi, dan ventilasi rumah, guna mengidentifikasi faktor lain yang mungkin lebih berperan dalam kejadian penyakit ISPA.

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk melakukan kajian lanjutan dengan fokus pada evaluasi sistem pengendalian emisi di PT. Vale Indonesia Tbk. untuk menilai efektivitasnya dalam menjaga kualitas udara ambien. Selain itu, penelitian lanjutan juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor lain yang mungkin lebih berperan dalam kejadian penyakit ISPA, seperti kepadatan hunian, tingkat kebersihan lingkungan, kebiasaan merokok, status gizi, dan ventilasi rumah. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam memahami hubungan antara kondisi curah hujan, kualitas udara, dan kejadian penyakit ISPA di Sorowako.

  1. Analysis The Level Of PM2,5 And Lung Function Of Organic Fertilizer Industry Workers In Nganjuk | JURNAL... doi.org/10.20473/jkl.v11i2.2019.141-149Analysis The Level Of PM2 5 And Lung Function Of Organic Fertilizer Industry Workers In Nganjuk JURNAL doi 10 20473 jkl v11i2 2019 141 149
Read online
File size638.62 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test