UMSUMS

Forum GeografiForum Geografi

Paper ini berupaya untuk menyingkap tabir “potensi tersembunyi dari pangan lokal dengan cara memetakan potensi pangan lokal berdasarkan teori “triple burden sebagaimana yang diajukan oleh Profesor Moerdijati Gardjito. Penelitian ini juga mengadopsi sebuah indeks: index of food relocalisation dan kemudian dimodifikasi dengan nama indeks pangan lokal dikarenakan alasan ketersediaan data. Pertanyaan penelitian utama dari kajian ini adalah dimanakah distribusi potensi pangan lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)? Selanjutnya, pertanyaan kunci tersebut dilengkapi dengan pertanyaan berikutnya: mengapa potensi potensi pangan lokal tersebut terkonsentrasi di tempat tersebut? Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo adalah dua kabupaten dengan potensi pangan lokal tertinggi di DIY. Penelitian ini juga dilengkapi dengan kajian agroekologi dan distribusi keruangan pendapatan menurut usaha padi dan palawija.

Penelitian ini menemukan bahwa Kabupaten Gunungkidul dan Kulonprogo adalah daerah dengan potensi pangan lokal yang tinggi di DIY, meskipun desa-desa penghasil utama tidak selalu berada di zona agroekologis hipotetis karena adaptasi tanaman pangan lokal pada berbagai lingkungan dan praktik tumpang sari, serta adanya korelasi antara Indeks Pangan Lokal (LFI) dan tingkat pendapatan.Pemetaan potensi pangan lokal ini diharapkan dapat menjadi alat penting untuk mengantisipasi krisis pangan yang diprediksi pada tahun 2037 dan memberikan informasi tentang pemanfaatan potensi tersembunyi pangan lokal untuk nutrisi, kesehatan, dan mata pencarian.Meskipun telah memberikan fondasi metodologis, studi ini memiliki keterbatasan dalam informasi indeks yang bersifat umum, fokus pada jumlah tanaman terbatas, serta analisis faktor fisik dan ekonomi saja, dengan isu kebijakan pangan lokal yang belum terjamah, membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut.

Penelitian lanjutan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan studi mendalam terhadap beberapa jenis tanaman pangan lokal spesifik yang terbukti potensial di Gunungkidul dan Kulonprogo, seperti singkong atau ubi jalar, bukan hanya menganalisis potensi secara umum. Fokus studi dapat mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari praktik budidaya yang berkelanjutan dalam konteks agroekologi dan tumpang sari, hingga strategi pengolahan pascapanen yang inovatif untuk meningkatkan nilai tambah produk (misalnya menjadi tepung mocaf atau produk olahan lainnya). Penting juga untuk menelusuri bagaimana saluran distribusi dan pemasaran yang efektif dapat dibangun agar produk pangan lokal ini lebih mudah diakses oleh konsumen dan memberikan keuntungan maksimal bagi petani, serta memahami faktor-faktor sosial dan budaya yang memengaruhi preferensi konsumsi masyarakat terhadap pangan lokal tersebut. Selanjutnya, mengingat pentingnya dukungan kebijakan untuk mengatasi “triple burden pangan lokal, penelitian di masa depan dapat mengevaluasi secara komprehensif implementasi dan efektivitas kebijakan pangan lokal yang telah diterapkan oleh pemerintah daerah. Analisis ini harus mengidentifikasi celah dan peluang dalam regulasi yang ada, serta merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih responsif dan inklusif, yang dapat mendorong diversifikasi pangan secara berkelanjutan dan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat. Terakhir, dengan mempertimbangkan ancaman krisis pangan dan perubahan iklim, studi dapat menginvestigasi adaptasi sistem pangan lokal. Ini melibatkan penilaian bagaimana kerentanan atau ketahanan produksi pangan lokal terhadap variabilitas iklim dan kejadian ekstrem, serta mengembangkan model proyeksi untuk mengantisipasi kebutuhan pangan di masa depan dan menyusun strategi adaptasi berbasis kearifan lokal. Ini akan memastikan bahwa pangan lokal tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga pilar utama ketahanan pangan di DIY.

Read online
File size912.67 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test