UNBARIUNBARI

One moment, please...One moment, please...

Uji infektivitas merupakan salah satu kelengkapan dalam mengetahui sifat fisik virus. Penentuan sifat fisik virus dapat dilakukan dengan melakukan pengujian titik panas inaktivasi (Thermal inactivation point/TIP), ketahanan in vitro (Longevity in vitro/LIV), dan titik batas pengenceran (Dilution end point/DEP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui infektivitas TMV dan CMV dalam sap melalui LIV, DEP, dan TIP pada tanaman Chaenopodium amaranticolor. Pengujian LIV dilakukan dengan inkubasi sap sampai waktu pengujian (0 jam, 6 jam, dan 24 jam), Uji DEP dilakukan dengan melakukan pengenceran sap (tidak diencerkan, 10-1, 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6, 10-7), sedangkan uji TIP dilakukan dengan memanaskan sap pada suhu ruang, 50°C, 70°C, 90°C selama 10 menit. Hasil penelitian ini menunjukkan TMV bersifat stabil dibandingkan dengan CMV. TMV masih bersifat infeksius pada penyimpanan sap 24 jam, sementara CMV sudah tidak bersifat infeksius antara 6 - 24 jam setelah inkubasi. Titik batas pengenceran sap TMV adalah antara 10-5 dan 10-6, sedangkan CMV sudah tidak dapat menimbulkan gejala pada tanaman pada pengenceran antara 10-1 dan 10-2. TMV masih bersifat infeksius pada perlakuan suhu 90°C, sementara titik panas inaktivasi CMV adalah 40°C dan 50°C.

TMV masih bersifat infeksius pada pengenceran antara 10-5 dan 10-6 serta pada perlakuan suhu 90°C.CMV tidak infektif pada pengenceran antara 10-1 dan 10-2 serta pada suhu antara 40°C dan 50°C.Kedua virus menunjukkan perbedaan stabilitas fisik dalam sap Chaenopodium amaranticolor.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi secara sistematis pengaruh variasi pH sap terhadap stabilitas dan daya infektifitas Tobacco Mosaic Virus (TMV) serta Cucumber Mosaic Virus (CMV), dengan menguji rentang pH 3 sampai 9 serta mencatat perubahan titik panas inaktivasi dan batas pengenceran, sehingga dapat ditentukan kondisi pH optimal untuk penyimpanan jangka panjang virus dalam sap. Selanjutnya, studi perbandingan infektivitas kedua virus pada beberapa tanaman indikator lain, seperti Nicotiana benthamiana, Solanum lycopersicum, dan Cucumis sativus, dapat memberikan gambaran mengenai spektrum host, perbedaan respons lokal versus sistemik, serta memperkuat validitas Chaenopodium amaranticolor sebagai model deteksi awal. Selain itu, penelitian dapat mengkaji efek kombinasi perlakuan termal (misalnya pemanasan pada 60 °C, 80 °C, dan 100 °C selama 5‑15 menit) dengan penambahan agen kimia anti‑oksidan atau surfaktan (seperti asam askorbat atau Tween‑20) terhadap inaktivasi CMV, untuk mengidentifikasi protokol yang lebih efisien dalam menonaktifkan virus pada bahan tanaman. Pendekatan genetik juga dapat diterapkan dengan melakukan sequencing lengkap pada isolat TMV dan CMV yang diuji, guna mengidentifikasi mutasi yang berkontribusi pada perbedaan stabilitas termal dan resistensi terhadap pengenceran, serta menghubungkannya dengan fenotipe infeksinya. Akhirnya, uji lapangan yang melibatkan aplikasi prosedur penyimpanan dan inaktivasi yang telah dioptimalkan pada skala pilot dapat menilai dampak praktis terhadap pengendalian penyebaran virus di kebun komersial, sehingga menghasilkan rekomendasi manajemen yang berbasiskan bukti ilmiah.

Read online
File size522.1 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test