UNBARIUNBARI

One moment, please...One moment, please...

Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia mulai 2008 sampai 2023. Salah satu tantangan dalam pengelolaan kebun adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Penyakit yang sering dijumpai yaitu penyakit busuk buah disebabkan oleh jamur Marasmius palmivorus yang dapat menurunkan produksi 25 %. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyakit busuk buah adalah iklim mikro (suhu dan kelembaban) di sekitar tanaman. Iklim mikro erat hubungannya dengan jarak tanam. Apabila jarak tanam rapat, maka suhu menjadi rendah dan kelembaban semakin tinggi sehingga memicu perkembangan penyakit busuk buah. Penelitian dilakukan di Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada SPH 160 dan SPH 200 dengan tujuan untuk mempelajari tingkat serangan penyakit busuk buah pada jarak tanam (kerapatan) yang berbeda dan hubungannya dengan kehilangan hasil kelapa sawit. Intensitas penyakit dan persentase penyakit ditabulasi dan dideskripsikan. Analisis regresi dan kolerasi digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara kehilangan hasil pada berbagai intensitas penyakit. Intensitas penyakit pada SPH 160 rata-rata 14,34 %, maka diestimasi kehilangan hasil 8,62 %, sedangkan intensitas penyakit pada SPH 200 rata-rata 25,1 %, maka diestimasi kehilangan hasil 12,31 %. Semakin tinggi intensitas penyakit, maka kehilangan hasil akan semakin tinggi.

Penelitian menunjukkan bahwa intensitas penyakit busuk buah pada kelapa sawit meningkat secara signifikan pada kerapatan tanam yang lebih tinggi (SPH 200) dibandingkan dengan kerapatan yang lebih rendah (SPH 160).Peningkatan intensitas penyakit berbanding lurus dengan peningkatan kehilangan hasil produksi, yang mencapai estimasi 12,31 % pada kerapatan tinggi.Oleh karena itu, penentuan jarak tanam yang optimal dapat menjadi strategi penting untuk mengurangi dampak penyakit dan meningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki bagaimana kombinasi variasi kerapatan tanam dengan praktik pengendalian terpadu (seperti penggunaan fungisida ramah lingkungan) mempengaruhi tingkat serangan busuk buah pada kebun kelapa sawit, sehingga dapat menghasilkan rekomendasi manajemen yang lebih efektif. Selanjutnya, penting untuk meneliti pengaruh modifikasi mikroklimat kanopi, misalnya melalui pemangkasan atau penataan tajuk, terhadap perkembangan penyakit busuk buah pada berbagai pola curah hujan, guna memahami mekanisme interaksi iklim mikro dan patogen. Terakhir, pengembangan model prediksi berbasis citra satelit dan data iklim lokal untuk mendeteksi risiko busuk buah secara dini dapat membantu petani dalam mengambil keputusan penanaman dan penanganan yang tepat, meningkatkan ketahanan produksi kelapa sawit.

Read online
File size426.65 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test