STIK SAMSTIK SAM

Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan KesehatanJurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan

Thalassemia merupakan kelompok hemoglobinopati kongenital yang ditandai oleh kekurangan atau ketiadaan satu (atau lebih) rantai globin yang membentuk hemoglobin. Thalassemia mayor diwariskan melalui pola resesif autosomal oleh perkawinan antara pembawa gen thalassemia yang dikenal sebagai thalassemia minor. Beta‑thalassemia merupakan tipe thalassemia yang paling umum. Diperkirakan 10% populasi Indonesia membawa gen beta‑thalassemia. Namun, belum ada skrining rutin bagi pembawa gen thalassemia. Beberapa metode skrining thalassemia telah tersedia, salah satunya adalah skrining calon pengantin menggunakan beberapa parameter hematologi seperti indeks Mentzer dan tes fragilitas sel darah merah; keduanya relatif sederhana dan murah dibandingkan analisis hemoglobin atau tes genetik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan frekuensi tersangka beta‑thalassemia minor pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang yang melibatkan 160 partisipan. Sampel darah partisipan dikumpulkan untuk pemeriksaan hitung darah lengkap dan one‑tube osmotic fragility test (OTOFT). Indeks Mentzer dihitung dengan membagi nilai MCV dengan jumlah eritrosit. Partisipan ditetapkan sebagai tersangka beta‑thalassemia minor apabila memenuhi kriteria berikut: (1) MCV < 80 fL; (2) indeks Mentzer < 13; dan (3) hasil OTOFT positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1,25% (n=2) dari 160 partisipan merupakan tersangka beta‑thalassemia minor. Untuk mengkonfirmasi temuan ini diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa elektroforesis hemoglobin atau tes genetik.

Prevalensi terduga pembawa gen thalassemia‑beta pada populasi mahasiswa Fakultas Universitas Mulawarman adalah 1,25%.Untuk mengkonfirmasi temuan skrining ini diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa elektroforesis hemoglobin atau analisis gen.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi prevalensi pembawa gen thalassemia‑beta dengan menggunakan teknik sampling acak pada populasi mahasiswa di berbagai universitas di Indonesia untuk meningkatkan generalisasi hasil; selanjutnya, studi komparatif antara metode skrining hematologi (seperti indeks Mentzer, MCV, dan OTOFT) dengan metode molekuler (seperti PCR atau sekuensing) dapat menilai keakuratan dan biaya efektivitas dalam deteksi pembawa gen, sehingga memberikan rekomendasi standar skrining terbaik; terakhir, penelitian intervensi yang menggabungkan program konseling pra‑nikah dengan skrining rutin dapat menilai dampak edukasi dan deteksi dini terhadap penurunan insiden thalassemia‑beta pada generasi mendatang, dengan mengukur perubahan perilaku perkawinan dan tingkat kepatuhan terhadap tes lanjutan.

Read online
File size696.84 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test