UIN WALISONGOUIN WALISONGO

Economica: Jurnal Ekonomi IslamEconomica: Jurnal Ekonomi Islam

Peran yang semakin meningkat dari pesantren Islam dalam pengembangan ekonomi berbasis komunitas menyoroti kebutuhan akan model yang mengintegrasikan kewirausahaan dengan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model santripreneur di Pesantren Islam Sunan Drajat, Lamongan. Dengan menggunakan desain studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi langsung, dan analisis dokumen pada unit-unit bisnis pesantren. Temuan mengidentifikasi trajektori berstruktur empat tahap—startup, stabilisasi, pertumbuhan dan pengembangan, serta sinergi bisnis nyata—yang mencerminkan transformasi santri menjadi wirausahawan Islam. Model ini mengintegrasikan nilai spiritual Islam dengan praktik bisnis modern, menekankan tawḥīd, perilaku etis, disiplin kinerja, dan kolaborasi pemangku kepentingan. Selain itu, model ini tidak hanya mengembangkan pola pikir wirausaha yang berlandaskan prinsip syariah, tetapi juga meningkatkan keberlanjutan institusi melalui pelatihan terstruktur dan keterlibatan alumni. Secara konseptual, model ini mengisi kekosongan dalam literatur kewirausahaan Islam, sementara secara praktis menawarkan kerangka kerja yang dapat direplikasi bagi pesantren lain yang menginginkan ekosistem ekonomi berkelanjutan dan sesuai syariah.

Model empat tahap—startup, stabilisasi, pertumbuhan dan pengembangan, serta sinergi bisnis nyata—menggambarkan transformasi santri menjadi wirausahawan Islam dengan menanamkan nilai tawḥīd dan etos kerja, memformalkan SOP serta sistem KPI empat dimensi, dan mengintegrasikan ritus Pola Cahaya.Pada tahap pertumbuhan dan pengembangan, ekspansi unit bisnis seimbang dengan inisiatif peningkatan kapasitas, sementara tahap sinergi bisnis nyata memperkuat jaringan alumni dan pemangku kepentingan.Tantangan utama meliputi kesenjangan keterampilan santripreneur pemula dan praktik promosi berbasis senioritas yang dapat menghambat inovasi serta kemajuan berbasis merit.

Penelitian lanjutan dapat mengevaluasi efektivitas model santripreneurship dengan membandingkan kinerja ekonomi dan sosial pesantren lain yang mengadopsi model serupa, sehingga menjawab pertanyaan: bagaimana perbedaan dampak antara pesantren yang menerapkan model empat tahap dengan yang tidak? Selanjutnya, studi longitudinal dapat meneliti proses pengembangan kompetensi santripreneur selama fase pertumbuhan dan pengembangan, khususnya mengidentifikasi faktor-faktor yang mempercepat atau memperlambat akuisisi keterampilan bisnis pada santri pemula. Terakhir, penelitian kualitatif dapat menyelidiki pengaruh praktik senioritas dalam promosi terhadap inovasi dan kepuasan kerja, dengan fokus pada alternatif sistem promosi berbasis merit untuk meningkatkan motivasi dan kreativitas santripreneur. Dengan menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif, ketiga arah studi ini akan memperkaya pemahaman tentang mekanisme internal dan eksternal yang menentukan keberlanjutan ekosistem wirausaha pesantren. Penelitian juga dapat mengkaji peran alumni dalam mendukung jaringan distribusi dan pemasaran produk pesantren, dengan meneliti strategi kolaborasi yang paling efektif dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal. Selain itu, analisis risiko dapat dilakukan untuk mengidentifikasi hambatan struktural dan kebijakan yang mengganggu implementasi model, sehingga rekomendasi kebijakan yang lebih tepat dapat dirumuskan.

  1. GEERTZ’S TRICHOTOMY OF ABANGAN, SANTRI, AND PRIYAYI: Controversy and Continuity | Burhani | JOURNAL... doi.org/10.15642/JIIS.2017.11.2.329-350GEERTZAoS TRICHOTOMY OF ABANGAN SANTRI AND PRIYAYI Controversy and Continuity Burhani JOURNAL doi 10 15642 JIIS 2017 11 2 329 350
Read online
File size357.05 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test