LEMHANNASLEMHANNAS

Jurnal Lemhannas RIJurnal Lemhannas RI

Perubahan iklim dan degradasi lingkungan telah menjadi tantangan global yang berdampak sistemik pada berbagai aspek kehidupan manusia. Pemanasan global, polusi udara dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, serta peningkatan frekuensi bencana alam adalah sinyal dari krisis ekologis yang membutuhkan respons kolektif, lintas sektoral, dan berkelanjutan. Sebagai tulang punggung pengembangan ekonomi, sektor keuangan tidak dapat lagi bersikap netral atau pasif dalam menghadapi tantangan ini. Sebaliknya, sistem keuangan harus secara aktif mendukung transisi menuju ekonomi hijau dan rendah karbon. Pada saat yang sama, revolusi digital telah mengubah secara fundamental lanskap ekonomi global. Teknologi seperti kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), blockchain, dan big data telah mempercepat digitalisasi berbagai bidang kehidupan kontemporer, termasuk industri keuangan. Proses ini meningkatkan efisiensi, memperluas inklusi, dan mendorong inovasi keuangan; namun, transformasi digital juga menimbulkan risiko seperti akses yang tidak merata, ancaman siber, dan ketergantungan pada infrastruktur teknologi global yang rentan terhadap gangguan geopolitik. Oleh karena itu, ketahanan ekonomi digital adalah prasyarat strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan stabilitas sistem keuangan nasional.

Studi ini menunjukkan bahwa keuangan Islam yang berkelanjutan secara lingkungan, ketika terintegrasi dengan ketahanan ekonomi digital, dapat menawarkan respons adaptif terhadap degradasi lingkungan, gangguan teknologi, dan dinamika geopolitik di wilayah Indo-Pasifik.Berdasarkan Teori Hubungan Tawhid dan Teori Kapasitas Absorpsi, studi ini menunjukkan bahwa keuangan Islam dapat berkontribusi pada pengembangan inklusif dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan ketika nilai-nilai syariah, prinsip-prinsip keberlanjutan, dan transformasi digital secara strategis selaras.Integrasi prinsip-prinsip hijau ke dalam keuangan Islam dapat diperkuat melalui maqasid al-shariah, khususnya hifz al-mal dan hifz al-biah, yang memberikan dasar normatif untuk inovasi keuangan hijau, tanggung jawab lingkungan, dan tata kelola ekonomi yang responsif terhadap risiko.Studi ini juga menunjukkan bahwa adopsi teknologi digital menciptakan peluang dan tantangan bagi lembaga keuangan Islam.Digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi, inklusi, transparansi, dan responsivitas institusional.namun, hal ini juga memerlukan infrastruktur digital yang lebih kuat, kesiapan siber, tata kelola data, kapasitas sumber daya manusia, dan inovasi teknologi yang sesuai dengan syariah.Oleh karena itu, lembaga keuangan Islam perlu memperkuat kapasitas absorpsi mereka untuk mengenali, menginternalisasi, dan menerapkan pengetahuan digital sambil mempertahankan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah.Selaras antara kapasitas absorpsi institusional dan transformasi digital yang sesuai dengan syariah memperkuat ketahanan digital dan ekonomi sebagai komponen integral dari ketahanan nasional.Dari perspektif strategis, integrasi keuangan Islam yang berorientasi lingkungan dan ketahanan ekonomi digital memerlukan penyesuaian kebijakan lintas sektoral, instrumen keuangan syariah yang berorientasi ESG, tata kelola keberlanjutan berbasis maqasid, pembangunan kapasitas digital, dan kerjasama regional dalam wilayah Indo-Pasifik.Strategi ini memperkuat kerangka Asta Gatra dengan memperkuat ketahanan ekonomi, keamanan lingkungan, kohesi ideologis, stabilitas sosio-institusional, dan responsivitas geopolitik.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi digital dan keuangan Islam yang berkelanjutan, penelitian lanjutan dapat mengusulkan strategi integratif yang mencakup pengembangan produk berkelanjutan, transformasi digital yang sesuai dengan syariah, diversifikasi dan penguatan portofolio investasi, pembangunan kapasitas organisasi, dan kolaborasi lintas sektoral. Strategi ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi, keamanan lingkungan, kohesi ideologis, stabilitas sosio-institusional, dan responsivitas geopolitik dalam kerangka Asta Gatra. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi implementasi kesenjangan dan mengembangkan indikator yang menangkap dampak sosial-ekonomi dari integrasi hijau dan digital. Dari perspektif teoritis, penelitian ini menjembatani nilai-nilai ekonomi Islam dengan pendekatan adaptif terhadap keberlanjutan dan inovasi digital, sementara dari sudut pandang praktis dan kebijakan, penelitian ini menekankan pentingnya penyesuaian lintas sektoral antara keuangan hijau, transformasi digital, dan kebijakan ekonomi Islam untuk memperkuat ketahanan nasional dalam kerangka Asta Gatra yang kohesif.

  1. Application of Green Finance in Promoting Low-carbon Transformation of Enterprises-Advance in Sustainability-Hill... doi.org/10.26855/as.2023.06.001Application of Green Finance in Promoting Low carbon Transformation of Enterprises Advance in Sustainability Hill doi 10 26855 as 2023 06 001
  2. Green Islamic Finance and Digital Economic Resilience in the Indo-Pacific Region | Jurnal Lemhannas RI.... doi.org/10.55960/jlri.v13i4.1063Green Islamic Finance and Digital Economic Resilience in the Indo Pacific Region Jurnal Lemhannas RI doi 10 55960 jlri v13i4 1063
  3. The Effect of E-WOM, Brand Trust, and Brand Ambassador on Purchase Decisions at Tokopedia Online Shopping... doi.org/10.1088/1757-899x/1071/1/012017The Effect of E WOM Brand Trust and Brand Ambassador on Purchase Decisions at Tokopedia Online Shopping doi 10 1088 1757 899x 1071 1 012017
Read online
File size1.19 MB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test