UnnasUnnas

SARGA: Journal of Architecture and UrbanismSARGA: Journal of Architecture and Urbanism

Kampung Malabero Kota Bengkulu memiliki satu wilayah bagian kecil yang disebut Kampung Cina. Kampung ini sudah lama dijadikan sebagai tempat tinggal bagi orang berdarah Tionghoa dan kampung ini sudah ada sejak zaman penjajahan Inggris, ketika mereka berusaha menguasai perdagangan lada sekitar abad ke-16. Sekitar tahun 1689, setelah kemitraan perdagangan Inggris East India Company (EIC) mengizinkan masuk, banyak orang keturunan Tionghoa pindah ke kota Bengkulu. Tahun 1970-an merupakan masa kejayaan Kampung ini. Di sinilah sebagian besar warga Bengkulu biasa berbelanja aneka dagangan mulai dari kelontong, pakaian, elektronik dan perabotan rumah tangga. Sejarah yang panjang dan keunikan bangunan arsitektur menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata sejarah yang cukup popular dan mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain. Namun, masa kejayaan kampung ini memudar pada 1990-an. Memudarnya kajayaan kawasan kecil ini diiringi oleh redupnya Karakter Pecinan pada Kawasan. Kemunduran daya tarik kawasan muncul pada aktifitas kepariwisataan pecinan Kota Bengkulu ini. Dilatar belakangi oleh kemunduran tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana eksistensi kampung ini sebagai pecinan. Data penelitian ini adalah data kualitatif, yakni data yang tidak dapat dihitung seperti; gambaran umum, lokasi penelitian, karakteristik kawasan, keberadaan, dan sejarah kawasan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Kampung Cina Kota Bengkulu masih memiliki karakter yang kuat sebagai Pecinan.

Kampung Cina Kota Bengkulu secara kuat mempertahankan identitasnya melalui ciri khas arsitektur Tiongkok seperti atap Ngang Shan, ornamen tradisional, dan kombinasi warna kuning-merah, yang juga didukung oleh kehidupan sehari-hari yang beragam serta aktivitas bisnis yang dinamis.Aspek-aspek ini secara keseluruhan memancarkan orisinalitas dan warisan budaya yang kaya di kawasan tersebut.Untuk masa depan, sangat diperlukan upaya perencanaan dan pengembangan kawasan yang berfokus pada potensi pariwisata budaya, pelestarian warisan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, termasuk mendukung bisnis keluarga dan restorasi bangunan bersejarah.

Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi karakter kuat Kampung Cina Kota Bengkulu, namun ada beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi guna mendukung pengembangan kawasan ini. Pertama, bagaimana dampak konkret dari berbagai strategi revitalisasi arsitektur dan budaya terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi lokal di Kampung Cina Kota Bengkulu? Studi ini bisa mengkaji efektivitas program-program pelestarian bangunan bersejarah, penyelenggaraan festival budaya, atau pengembangan produk-produk wisata khas. Kedua, penting untuk meneliti model partisipasi masyarakat lokal yang inklusif dan berkelanjutan dalam pengelolaan serta pengembangan potensi wisata budaya di Kampung Cina. Mengingat keberagaman etnis penduduk di kawasan ini, penelitian dapat fokus pada bagaimana menyatukan perspektif dan aspirasi warga keturunan Tionghoa, Padang, dan Bengkulu agar mereka merasa memiliki dan aktif berkontribusi dalam menjaga keaslian serta daya tarik kawasan. Ketiga, sebuah studi komparatif mengenai strategi pelestarian dan pengembangan kawasan Pecinan di kota-kota lain di Indonesia atau Asia Tenggara dapat memberikan wawasan berharga. Dengan membandingkan Kampung Cina Bengkulu dengan Pecinan lain yang sukses mempertahankan identitasnya sambil menarik wisatawan, kita bisa mengidentifikasi praktik terbaik (best practices) dan inovasi yang relevan untuk diterapkan di Bengkulu, serta memahami faktor-faktor keberhasilan dan kegagalan yang mungkin terjadi di konteks berbeda. Ketiga saran ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang cara mengubah identitas yang telah diidentifikasi menjadi sebuah aset yang berdaya guna bagi kota dan masyarakatnya.

Read online
File size643.28 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test