IPTRISAKTIIPTRISAKTI

Jurnal Ilmiah PariwisataJurnal Ilmiah Pariwisata

Kapal Pinisi merupakan warisan budaya maritim Indonesia yang berasal dari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Namun, keberlanjutan industri pembuatan kapal Pinisi menghadapi berbagai tantangan dalam bisnis galangan kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rantai pasok dalam industri pembuatan kapal Pinisi serta merancang strategi manajemen rantai pasok yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan dengan pendekatan ekonomi biru. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur kepada pemilik usaha galangan dan pengrajin kapal Pinisi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan content analysis, thematic analysis, dan constant comparative analysis dengan bantuan perangkat lunak NVivo 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan rantai pasok dalam industri ini masih belum optimal, terutama dalam aspek pengadaan bahan baku, manajemen tenaga kerja, dan pemasaran. Selain itu, intervensi pihak asing dalam bisnis galangan kapal menyebabkan ketidakseimbangan harga pasar dan berpotensi mengancam keberlanjutan industri ini. Oleh karena itu, diperlukan strategi berbasis ekonomi biru yang meliputi pengelolaan bahan baku yang lebih berkelanjutan, peningkatan akses permodalan bagi pengrajin, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran dan distribusi. Dengan menerapkan strategi tersebut, industri pembuatan kapal Pinisi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.

Berdasarkan hasil evaluasi, diketahui bahwa terdapat beberapa aspek yang masih perlu menjadi bahan evaluasi dalam rangka mewujudkan manajamen rantai pasok yang efektif, efisien dan berkelanjutan pada indutri pembuatan kapal Pinisi.Hampir seluruh rekomendasi yang diusulkan oleh peneliti lebih ditujukan kepada pemerintah dikarenakan pada kasus ini tidak dapat diatasi hanya dengan inisiatif masyarakat atau pelaku usaha sendiri, namun yang paling dibutuhkan adalah political will dan peran aktif pemerintah.Berikut beberapa rekomendasi yang dapat diusulkan terkait manajemen rantai pasok pada industri pembuatan kapal Pinisi.(1) Agar akses bahan baku yang terjangkau, maka pemerintah harus memberikan subsidi untuk meningkatkan daya beli pelaku usaha, juga meningkatan infrastruktur logistik untuk distribusi bahan baku, adanya pelatihan untuk pelaku usaha dalam negosiasi dan manajemen rantai pasokan, regulasi tepat, pengawasan terhadap pungutan liar, program matchmaking untuk mencocokkan pelaku usaha dengan pemasok yang tepat, pemerintah menbuat transparansi harga dan mendukung praktik perdagangan yang adil.(2) Praktik pungutan liar dalam perizinan bahan baku, maka pemerintah harus memperkuat sistem pemantauan dan memberikan sanksi tegas terhadap praktik pungutan liar, selanjutnya mengembangkan sistem perizinan online yang memudahkan pelaku usaha tanpa perlu pertemuan langsung.(3) Tidak adanya program konservasi untuk menjaga kelangsungan bahan baku, maka pemerintah harus membuat program konservasi yang fokus pada bahan baku, pemerintah menyediakan dana atau insentif untuk pelaku usaha yang menerapkan praktik konservasi.(4) Manajemen limbah yang belum efektif yang dilakukan pemerintah adalah fokus pada pencegahan, pengurangan, dan daur ulang, mendorong nilai tambah dari limbah, untuk meningkatkan akses pendidikan pembuatan Kapal Pinisi, maka diperlukanyan mendirikan sekolah kerajinan kapal Pinisi, mengadakan pelatihan di masyarakat, menyediakan pembelajaran online tentang pembuatan kapal Pinisi.(6) Kurangnya pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk promosi, maka pemerintah memberikan pelatihan penggunaan teknologi dan media sosial untuk pemasaran., mendorong pembuatan konten menarik, seperti video dan cerita tradisi kapal Pinisi, menggandeng influencer untuk mempromosikan produk kapal Pinisi.(7) Intervensi usaha ilegal dari warga negara asing dengan memperkuat regulasi dan penegakan hukum terhadap usaha ilegal asing, mendirikan tim khusus untuk memantau dan menertibkan usaha ilegal yang mengganggu pasar lokal.

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi rantai pasok dalam industri pembuatan kapal Pinisi, pemerintah dapat mengambil peran aktif dalam memberikan subsidi dan meningkatkan infrastruktur logistik untuk distribusi bahan baku. Selain itu, pelatihan negosiasi dan manajemen rantai pasokan dapat membantu pelaku usaha dalam negosiasi harga dan manajemen pasokan. Pemerintah juga dapat memperkuat sistem pemantauan dan memberikan sanksi tegas terhadap praktik pungutan liar dalam perizinan bahan baku, serta mengembangkan sistem perizinan online yang memudahkan pelaku usaha. Program konservasi yang fokus pada bahan baku dan insentif untuk pelaku usaha yang menerapkan praktik konservasi dapat membantu menjaga kelangsungan bahan baku. Manajemen limbah yang efektif, termasuk pencegahan, pengurangan, dan daur ulang, serta mendorong nilai tambah dari limbah, dapat dilakukan dengan kampanye peningkatan kesadaran pengelolaan limbah. Pemerintah juga dapat mendukung akses pendidikan pembuatan kapal Pinisi melalui pendirian sekolah kerajinan kapal Pinisi, pelatihan di masyarakat, dan pembelajaran online. Pemanfaatan teknologi dan media sosial untuk promosi dapat ditingkatkan melalui pelatihan penggunaan teknologi dan media sosial untuk pemasaran, serta menggandeng influencer untuk mempromosikan produk kapal Pinisi. Terakhir, intervensi usaha ilegal dari warga negara asing dapat ditangani dengan memperkuat regulasi dan penegakan hukum, serta mendirikan tim khusus untuk memantau dan menertibkan usaha ilegal yang mengganggu pasar lokal.

  1. Jurnal Ilmiah Pariwisata. evaluasi manajemen rantai pasok usaha pembuatan kapal pinisi penerapan konsep... jurnalpariwisata.iptrisakti.ac.id/index.php/JIP/article/view/1855Jurnal Ilmiah Pariwisata evaluasi manajemen rantai pasok usaha pembuatan kapal pinisi penerapan konsep jurnalpariwisata iptrisakti ac index php JIP article view 1855
Read online
File size494.64 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test