STIKES ISFISTIKES ISFI

JIIS (Jurnal Ilmiah Ibnu Sina): Ilmu Farmasi dan KesehatanJIIS (Jurnal Ilmiah Ibnu Sina): Ilmu Farmasi dan Kesehatan

Minyak atsiri temu kunci (Boesenbergia rotunda L. (Mansf)) dilaporkan mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus tetapi belum spesifik terhadap bakteri penyebab jerawat. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kandungan kimia dan aktivitas antibakterinya terhadap S. aureus, S. epidermidis dan Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Minyak atsiri yang diisolasi dengan distilasi uap dan air, dihitung rendemen, indeks bias dan diamati organoleptiknya. Identifikasi komponen minyak atsiri dilakukan dengan gas chromatography-mass spectrometry (GC‑MS). Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi dan mikrodilusi cair untuk penetapan kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM). Minyak atsiri temu kunci berwarna jenih, bau khas aromatis, berasa khelat dan agak pahit dengan rendemen 1,19%. Indeks bias sebesar 1,4785 ± 0,0001. Identifikasi GC‑MS menunjukkan 5 komponen utama minyak temu kunci adalah camphor (28,70%), ocimene (24,71%), eucalyptol (16,26%), geraniol (14,81%) dan methyl cinnamate (4,16%). Uji antibakteri menunjukkan diameter zona hambatan paling besar pada perlakuan minyak temu kunci konsentrasi 20% diikuti 10%, 5% dan 2,5%. KHM minyak temu kunci terhadap S. aureus dan S. epidermidis sebesar 0,625% dan terhadap P. acnes sebesar 1,25%. Nilai KBM minyak temu kunci diperoleh dua kali lebih besar dari nilai KHM. Aktivitas antibakteri minyak atsiri temu kunci yang besar menjadikan potensial untuk dikembangkan menjadi sediaan anti‑jerawat.

Minyak atsiri temukunci menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Propionibacterium acnes, merusak membran sel bakteri serta menyebabkan pelepasan materi intraseluler seperti asam nukleat, protein, dan ion.Komponen monoterpen utama dan keberadaan struktur keton berperan penting dalam mekanisme antibakteri tersebut.Karena efektivitasnya yang tinggi, minyak ini berpotensi dikembangkan menjadi sediaan anti‑jerawat dengan formula yang stabil, tekstur halus, dan daya tahan yang baik pada kulit berjerawat.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki efektivitas minyak atsiri temukunci dalam model in‑vivo pada hewan atau manusia untuk menilai keamanan dan efikasi klinisnya secara langsung, sehingga dapat memvalidasi hasil in‑vitro yang telah diperoleh. Selain itu, diperlukan studi formulasi lanjutan yang mengoptimalkan stabilitas kimia dan fisik minyak dalam sistem sediaan topikal, seperti nanoemulsi atau mikrokapsul, untuk memastikan pelepasan terkendali dan mencegah penguapan selama penyimpanan. Terakhir, penelitian dapat mengevaluasi potensi sinergi antara minyak atsiri temukunci dengan agen antimikroba konvensional atau bahan aktif herbal lain, guna mengurangi dosis obat, memperluas spektrum antibakteri, dan mengatasi resistensi bakteri penyebab jerawat.

  1. PENGEMBANGAN FORMULASI MIKROEMULSI MINYAK SEREH (Cymbopogon nardus) MENGGUNAKAN EMULGATOR SURFAKTAN NONIONIK... jurnal.farmasi.umi.ac.id/index.php/fitofarmakaindo/article/view/176PENGEMBANGAN FORMULASI MIKROEMULSI MINYAK SEREH Cymbopogon nardus MENGGUNAKAN EMULGATOR SURFAKTAN NONIONIK jurnal farmasi umi ac index php fitofarmakaindo article view 176
  2. Antibacterial Effect of Cinnamon and Citronella Oils Combination Against Acne-Related Bacteria | Borneo... journal.umpr.ac.id/index.php/bjop/article/view/4735Antibacterial Effect of Cinnamon and Citronella Oils Combination Against Acne Related Bacteria Borneo journal umpr ac index php bjop article view 4735
Read online
File size335.5 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test