IJHPIJHP
International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)Abstrak. Latar belakang: Human Papillomavirus (HPV) merupakan salah satu penyebab lesi benign pada rongga mulut dan orofaring. Lesi yang paling umum meliputi papilloma sel skuamosa, kondiloma akuminatum, verruca vulgaris, dan hiperplasia epitelial multifokal (MFEH). Meskipun bersifat benign, keempat lesi tersebut memiliki karakteristik klinis dan histopatologis yang tumpang tindih, sehingga diagnosis sering sulit. Tujuan tinjauan literatur ini adalah meninjau karakteristik klinis, histopatologi, diagnosis banding, penanganan, dan prognosis lesi benign rongga mulut dan oropharing yang terkait dengan infeksi HPV. Metode: Artikel ini disusun dengan metode tinjauan literatur naratif. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect menggunakan kata kunci terkait HPV dan lesi benign rongga mulut. Literatur yang dipublikasikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris antara tahun 2017 hingga 2025 dipilih berdasarkan relevansi terhadap anatomi, histologi, epidemiologi, etiologi, manifestasi klinis, fitur makro- dan mikroskopik, diagnosis banding, penanganan, serta prognosis lesi benign tersebut. Hasil: Lesi benign yang terkait HPV meliputi papilloma sel skuamosa, kondiloma akuminatum, verruca vulgaris, dan MFEH. Sebagian besar lesi berhubungan dengan infeksi HPV berisiko rendah, khususnya tipe 6 dan 11, dengan predileksi pada mukosa labial, lidah, mukosa buccal, dan langit-langit. Penyajian klinis umumnya berupa pertumbuhan eksofitik dengan permukaan papiler atau verukosa. Secara histopatologis, semua lesi menunjukkan proliferasi epitel skuamosa disertai koilosit sebagai penanda efek sitopatik HPV, sementara badan mitoid merupakan fitur khas yang lebih sering ditemukan pada MFEH. Diagnosis ditegakkan melalui korelasi antara riwayat, pemeriksaan klinis, dan evaluasi histopatologis untuk membedakan lesi benign dari lesi berpotensi malignan. Eksisi sederhana merupakan terapi utama dengan prognosis umumnya baik, meskipun kondiloma akuminatum cenderung kambuh. Kesimpulan: Diagnosis lesi benign rongga mulut dan oropharing yang terkait HPV memerlukan integrasi karakteristik klinis, histopatologi, dan bila diperlukan, pemeriksaan molekuler. Pemahaman perbedaan karakteristik tiap lesi penting untuk meningkatkan akurasi diagnosis, menentukan penanganan yang tepat, dan mencegah misdiagnosis lesi malignan.
Lesi benign oral dan orofaring yang terkait infeksi HPV meliputi papilloma sel skuamosa, verruca vulgaris, kondiloma akuminatum, dan multifokal epithelial hyperplasia (MFEH).Lesi ini dapat terjadi pada semua kelompok umur, dengan prevalensi lebih tinggi pada pria kecuali papilloma sel skuamosa (setara) dan MFEH (lebih pada wanita).lokasi paling umum adalah mukosa labial dan tipe HPV 6 serta 11 paling sering teridentifikasi.Pengobatan utama untuk lesi benign tersebut adalah eksisi bedah sederhana.
Penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada tiga arah utama. Pertama, dilakukan studi epidemiologi molekuler pada populasi Indonesia untuk menentukan prevalensi dan distribusi genotipe HPV (tipe 6, 11, serta tipe berisiko tinggi) yang terkait dengan lesi benign rongga mulut, dengan menggunakan teknik PCR dan sekvensi; hal ini akan menjawab pertanyaan bagaimana variasi genotipe memengaruhi pola klinis dan demografis lesi. Kedua, diperlukan penilaian prospektif mengenai akurasi diagnosis kombinasi antara pemeriksaan klinis, histopatologi, dan tes molekuler (seperti in situ hybridization) dalam membedakan lesi benign HPV dari lesi prekanker atau kanker, sehingga dapat mengidentifikasi protokol diagnostik optimal. Ketiga, sebuah uji klinis terkontrol dapat dilakukan untuk membandingkan hasil jangka panjang antara eksisi bedah sederhana, laser ablasi, dan krioterapi pada pasien dengan lesi HPV, termasuk tingkat kekambuhan, komplikasi, dan kualitas hidup pasien, guna menentukan strategi terapi paling efektif dan aman. Semua penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan pengetahuan saat ini, memperbaiki prosedur diagnostik, serta meningkatkan outcome klinis bagi penderita lesi benign terkait HPV.
| File size | 415.61 KB |
| Pages | 9 |
| DMCA | Report |
Related /
MAYADANIMAYADANI Kelompok Griya lansia Aisyiyah Baiturrahmah adalah salah satu posyandu yang ada di kelurahan Patangpuluhan dengan jumlah lansia yang cukup banyak dan beberapaKelompok Griya lansia Aisyiyah Baiturrahmah adalah salah satu posyandu yang ada di kelurahan Patangpuluhan dengan jumlah lansia yang cukup banyak dan beberapa
STIKESYARSIMATARAMSTIKESYARSIMATARAM Metode penelitian adalah kuantitatif dengan desain korelasional cross‑sectional, menggunakan purposive sampling 69 responden. Instrumen utamanya adalahMetode penelitian adalah kuantitatif dengan desain korelasional cross‑sectional, menggunakan purposive sampling 69 responden. Instrumen utamanya adalah
YARSIYARSI Pengambilan data dilakukan dengan observasi kerumah warga dan wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan metodePengambilan data dilakukan dengan observasi kerumah warga dan wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan metode
YARSIYARSI Tindak lanjut terapi antipsikotik, seperti haloperidol, dapat menurunkan gejala agresivitas dan kecurigaan pada pasien BPSD, namun perlu observasi lanjutanTindak lanjut terapi antipsikotik, seperti haloperidol, dapat menurunkan gejala agresivitas dan kecurigaan pada pasien BPSD, namun perlu observasi lanjutan
YARSIYARSI Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi neuropati pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit X di Jakarta Pusat adalah 1,68%, dan prevalensi neuropatiHasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi neuropati pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit X di Jakarta Pusat adalah 1,68%, dan prevalensi neuropati
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM Untuk mengatasi anemia yang persisten pada pasien CKD, manajemen klinis harus mencakup pemantauan hemoglobin secara rutin dan mempertimbangkan terapi tambahanUntuk mengatasi anemia yang persisten pada pasien CKD, manajemen klinis harus mencakup pemantauan hemoglobin secara rutin dan mempertimbangkan terapi tambahan
UMITRAUMITRA Analisis chi square menghasilkan nilai p = 0,000, menunjukkan hubungan signifikan antara mekanisme koping dan kualitas hidup (OR = 13,619). PenelitianAnalisis chi square menghasilkan nilai p = 0,000, menunjukkan hubungan signifikan antara mekanisme koping dan kualitas hidup (OR = 13,619). Penelitian
STPKAKSTPKAK Penelitian ini menganalisis implementasi teori psikologi positif model PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, Achievement) dalam konteksPenelitian ini menganalisis implementasi teori psikologi positif model PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, Achievement) dalam konteks
Useful /
YARSIYARSI Kadar Hb pra-transfusi yang rendah berhubungan dengan adanya beberapa gejala seperti kelelahan, kelemahan umum, dan penurunan status mental serta memengaruhiKadar Hb pra-transfusi yang rendah berhubungan dengan adanya beberapa gejala seperti kelelahan, kelemahan umum, dan penurunan status mental serta memengaruhi
YARSIYARSI Pengobatan alternatif maupun komplementer menggunakan tanaman kunyit perlu dibuktikan secara in vitro, in vivo dan klinis. Penelitian ini dilakukan untukPengobatan alternatif maupun komplementer menggunakan tanaman kunyit perlu dibuktikan secara in vitro, in vivo dan klinis. Penelitian ini dilakukan untuk
UPN VeteranUPN Veteran Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan proyek dan integrasi rantai pasok secara signifikan mempengaruhi kinerja proyek. Namun, perencanaan proyekHasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan proyek dan integrasi rantai pasok secara signifikan mempengaruhi kinerja proyek. Namun, perencanaan proyek
PENERBITPENERBIT Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran jemaat terhadap kehadiran ilahi dalam ciptaan serta menumbuhkan tanggung jawab iman terhadap pelestarianProgram ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran jemaat terhadap kehadiran ilahi dalam ciptaan serta menumbuhkan tanggung jawab iman terhadap pelestarian