ACEHPROVACEHPROV

Journal of Medical ScienceJournal of Medical Science

Malnutrisi mempengaruhi 20-50% dari pasien rawat inap. Malnutrisi memiliki konsekuensi negatif pada pasien yang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Efek malnutrisi antara lain peningkatan masa rawatan, peningkatan biaya rawatan, pada tubuh akan meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi, mempengaruhi status fungsional, meningkatkan morbiditas, mortalitas dan meningkatkan frekuensi pasien masuk kembali ke rumah sakit untuk dirawat. Skrining risiko malnutrisi saat admisi merupakan prosedur yang rutin dilaksanakan pada setiap pasien dalam 24-48 jam pasca masuk ke rumah sakit dan dapat diulangi pada hari ketujuh rawatan. Hasil skrining dapat menentukan langkah yang harus dilakukan terkait dengan risiko malnutrisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi malnutrisi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi risiko malnutrisi rumah sakit pada pasien rawat inap dewasa. Penelitian ini menggunakan jenis dan rancangan penelitian nested case control. Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Zainoel Abidin. Pasien diwawancara dengan menggunakan Malnutrition Screening Tool (MST) pada saat masuk rumah sakit dan hari ke 7 rawatan. Kasus dan kontrol ditentukan pada akhir penelitian setelah diketahui perubahan risiko malnutrisinya. Beberapa faktor seperti usia, ada tidaknya konsultasi kepada dokter spesialis gizi klinik, keterlambatan konsultasi ke dokter spesialis gizi klinik dan kelompok penyakit akan dianalisa dengan uji Chi Square dan Odd Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan hampir 90% responden berada dalam kategori berisiko malnutrisi saat masuk rumah sakit dan meningkat menjadi 93.5% saat hari ke 7 rawatan. Sebanyak 67.8% pasien berisiko malnutrisi Rumah Sakit (RS). Ketiadaan konsultasi kepada dokter spesialis gizi klinik dan faktor kelompok penyakit merupakan faktor risiko malnutrisi rumah sakit.

Mayoritas responden (89,8%) berada dalam kategori berisiko malnutrisi pada saat admisi, dan persentase tersebut meningkat menjadi 93,5% pada hari ke‑7 rawat inap.Sebanyak 67,8% pasien mengalami risiko malnutrisi rumah sakit, yang terutama dipengaruhi oleh tidak adanya konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik serta tipe penyakit, dimana pasien tanpa konsultasi memiliki odds ratio 24,88 dan pasien dengan penyakit bedah memiliki odds ratio 3,32.Faktor usia serta keterlambatan konsultasi tidak terbukti menjadi faktor risiko signifikan dalam kejadian malnutrisi rumah sakit.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi pengaruh faktor asupan nutrisi yang tidak adekuat, termasuk kualitas menu, penggunaan peralatan makan, dan prosedur medis, terhadap risiko malnutrisi rumah sakit pada pasien rawat inap, sehingga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat dimodifikasi untuk meningkatkan status gizi. Selain itu, studi eksperimental yang membandingkan intervensi nutrisi dini (<48 jam) dengan intervensi terlambat (>48 jam) pada kelompok penyakit bedah dan non‑bedah dapat mengukur dampak timing intervensi terhadap outcome klinis seperti lama rawat inap, komplikasi, dan mortalitas. Terakhir, pengembangan dan uji coba jalur perawatan gizi multidisiplin yang melibatkan dokter, dokter spesialis gizi klinik, ahli gizi, perawat, dan tenaga sosial dapat menilai efektivitas model kolaboratif dalam menurunkan prevalensi malnutrisi rumah sakit serta meningkatkan kepatuhan terhadap skrining dan konsultasi gizi.

  1. :: NRP :: Nutrition Research and Practice. nrp nutrition research practice nutr res pract apr english... e-nrp.org/DOIx.php?id=10.4162/nrp.2023.17.2.218NRP Nutrition Research and Practice nrp nutrition research practice nutr res pract apr english e nrp DOIx php id 10 4162 nrp 2023 17 2 218
Read online
File size476.27 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test