JISCMJISCM

Journal of International Surgery and Clinical MedicineJournal of International Surgery and Clinical Medicine

Pendahuluan: Loosening aseptik setelah total knee replacement (TKR) didefinisikan sebagai pelepasan prostesis dari tulang yang disertai respons inflamasi akibat makrofag tanpa infeksi atau trauma, yang dapat muncul akibat kehilangan fiksasi mekanik secara bertahap. Pigmented villonodular synovitis (PVNS) merupakan penyakit jinak yang berasal dari sinovium. Meskipun etiologi PVNS masih belum jelas dan penyebab terjadinya PVNS setelah TKR masih terbatas dalam literatur, hipotesis mikrotrauma yang menyebabkan perdarahan berulang dapat memicu PVNS. Hingga kini belum ada konsensus yang jelas mengenai pilihan pengobatan utama untuk PVNS, dan operasi umumnya menjadi pendekatan utama. Eksisi bedah dengan synovektomi total dianggap sebagai standar emas untuk PVNS. Deskripsi kasus: Seorang wanita berusia 63 tahun dengan riwayat TKR kiri tiga tahun sebelumnya datang ke pusat kami dengan keluhan nyeri persisten dan penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari. Pasien kemudian menjalani prosedur revisi beserta sinovektomi terbuka karena dugaan PVNS, yang dikonfirmasi melalui studi histopatologis. Tiga bulan pascaoperasi, pasien menunjukkan perbaikan signifikan pada rentang gerak lutut kiri dan kualitas hidup yang diukur dengan skor KOOS sebesar 78 dari 100.

Kasus ini menggambarkan loosening aseptik setelah total knee replacement yang disertai temuan PVNS yang dikonfirmasi secara histopatologis.Loosening implan diyakini berkaitan dengan kehilangan fiksasi mekanik atau peradangan kronis, sedangkan munculnya PVNS setelah loosening implan kemungkinan dipicu oleh mikrotrauma.Pasien yang menjalani revisi satu tahap TKR dan synovektomi total terbuka menunjukkan perbaikan klinis signifikan pada kunjungan tiga bulan, namun mengingat risiko tinggi kekambuhan PVNS dan faktor prognostik yang belum jelas, diperlukan pemantauan jangka panjang.

Pertama, penelitian dapat difokuskan pada identifikasi faktor biomekanik spesifik, seperti ukuran, orientasi, atau kesesuaian implan, yang berkontribusi pada mikrotrauma dan memicu perkembangan pigmented villonodular synovitis (PVNS) pada pasien pasca total knee replacement (TKR). Studi kohort prospektif dengan analisis citra radiologis dan biomekanik pada populasi yang luas dapat mengungkap korelasi antara karakteristik implan dan insiden PVNS. Kedua, diperlukan studi longitudinal dengan jangka waktu minimal lima tahun untuk menilai tingkat kekambuhan PVNS serta menentukan faktor prognostik klinis, radiologis, dan histopatologis yang memprediksi hasil jangka panjang setelah revisi satu tahap TKR dan synovektomi total terbuka. Penelitian ini dapat melibatkan evaluasi skor klinis seperti KOOS serta pemeriksaan pencitraan berkala. Ketiga, uji klinis terkontrol acak dapat dirancang untuk membandingkan efektivitas synovektomi total saja versus kombinasi synovektomi dengan terapi adjuvan, misalnya inhibitor CSF1/CSF1R, dalam mengurangi recidivisme PVNS dan meningkatkan fungsi sendi. Hasil penelitian tersebut akan memberikan dasar evidensi untuk strategi terapeutik yang lebih tepat dalam mengelola loosening implan yang disertai PVNS.

  1. Implant loosening after total knee replacement with pigmented villonodular synovitis: a case report |... jiscm.id/index.php/JISCM/article/view/80Implant loosening after total knee replacement with pigmented villonodular synovitis a case report jiscm index php JISCM article view 80
Read online
File size455.35 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test