POLSRIPOLSRI

Prosiding Semnas FirstProsiding Semnas First

Halitosis merupakan adalah problem yang sering dialami oleh setiap orang yang diakibat oleh penumpukan bakteri yang berkembang pesat di area minim oksigen. Dalam setiap produk kesehatan mulut dan gigi mayoritas mengandung antioksidan dan antibakteri. Mentimun memiliki potensi sebagai antioksidan alami karena pada uji fitokimia mentimun memiliki senyawa flavonoid. Pada proses ektraksi kadar flavanoid mentimun, ekstraksi menggunakan variabel tetap berupa berat serbuk mentimun yaitu 100 g (serbuk), penyari etanol 95%. Dimana variabel tidak tetapnya adalah jumlah pelarut dengan variasi 600 ml,700 ml,800 ml,900 ml,1000 ml. Pada proses ekstraksi, Maserasi dilakukan selama 3 hari dengan dilakukan pengadukan. Filtrat yang didapat diuapkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Hasil maserasi diuji dengan spektrofotometer Uv-Vis untuk mengetahui hasil kadar flavanoid. Dan diketahui nilai kadar flavanoid ppm perlarutannya untuk larutan 1 (600 ml) adalah 10,21, larutan 2 (700 ml) sebanyak 23,26 , larutan 3 (800 ml) sebanyak 162,58, larutan 4 (900 ml) sebanyak 69,59 , larutan 5 (1000) sebanyak 28,42. Sehingga perlakuan terbaik adalah larutan ke 3. Dimana setelah dijadikan sediaan pasta gigi, menghasilkan sediaan yang bertektur, berbau dan berwarna sama dengan pasta gigi pada umumnya.

Ekstraksi mentimun dengan menambahkan 800 ml etanol 95% pada 100 g bubuk mentimun menghasilkan ekstrak flavonoid tertinggi (162,58 ppm) dan larutan berwarna paling gelap dibandingkan perlakuan lain.Kandungan flavonoid berbanding lurus dengan intensitas warna larutan.semakin gelap warnanya, semakin tinggi kadar flavonoid.Pasta gigi yang diproduksi menggunakan ekstrak ini memiliki tekstur, warna, dan bau yang serupa dengan pasta gigi komersial.

Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi efektivitas antimikroba pasta gigi berbahan flavonoid mentimun terhadap bakteri penyebab bau mulut seperti Porphyromonas gingivalis, baik dalam uji laboratorium maupun uji klinis pada sukarelawan, untuk memastikan kemampuan mengurangi halitosis secara nyata. Selain itu, diperlukan optimasi parameter ekstraksi (misalnya konsentrasi pelarut, suhu, dan durasi) menggunakan pendekatan respons permukaan untuk memaksimalkan hasil flavonoid sekaligus menilai stabilitas ekstrak selama penyimpanan dalam formulasi pasta gigi. Selanjutnya, uji klinis terkontrol dengan sampel besar dapat membandingkan pengaruh penggunaan pasta gigi flavonoid terhadap indeks plak dan bau mulut dengan pasta gigi komersial standar, sambil menilai kepuasan pengguna, keamanan jangka panjang, dan potensi efek samping.

Read online
File size363.94 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test