FISIKAFISIKA

Journal of the Physical Society of IndonesiaJournal of the Physical Society of Indonesia

Penanaman Amorphophallus muelleri (porang) di Indonesia sangat bergantung pada pola hujan dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban tanah, intensitas cahaya, dan curah hujan. Ketergantungan ini seringkali menyebabkan pengelolaan irigasi yang tidak efisien dan pertumbuhan tanaman yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem irigasi otomatis dan pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk mendukung budidaya porang dan meningkatkan efisiensi pengelolaan air. Sistem ini diimplementasikan menggunakan mikrokontroler Arduino Uno dan NodeMCU ESP8266, terintegrasi dengan sensor DHT22 (suhu dan kelembaban), YL-69 (kelembaban tanah), BH1750 (intensitas cahaya), dan sensor hujan, serta terhubung ke platform IoT Blynk untuk pemantauan real-time dan kendali jarak jauh. Hasil kalibrasi menunjukkan kesalahan pengukuran yang rendah sebesar 2,19%, 1,75%, dan 5,09% untuk sensor suhu, kelembaban tanah, dan intensitas cahaya, yang menunjukkan kinerja sensor yang andal. Hasil uji menunjukkan bahwa sistem mampu mengaktifkan pompa air secara otomatis ketika kelembaban tanah turun di bawah ambang batas 50%, sehingga menjaga kelembaban tanah dalam kisaran optimal di bawah berbagai kondisi lingkungan. Secara keseluruhan, sistem yang diusulkan memungkinkan pemantauan lingkungan terus-menerus dan kendali irigasi otomatis yang efektif untuk mendukung pertumbuhan porang yang optimal.

Sistem irigasi otomatis dan pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT) untuk budidaya Amorphophallus muelleri (porang) telah dirancang dan diimplementasikan dengan sukses.Sistem ini terdiri dari sensor suhu dan kelembaban DHT22, sensor kelembaban tanah YL-69, sensor intensitas cahaya BH1770, dan sensor hujan, yang terintegrasi dengan mikrokontroler Arduino Uno, modul Wi-Fi NodeMCU ESP8266, dan aplikasi Blynk untuk pemantauan real-time.Hasil kalibrasi menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi, dengan nilai kesalahan sebesar 2,19% untuk sensor suhu, 1,75% untuk sensor kelembaban tanah, dan 5,09% untuk sensor intensitas cahaya.Sensor hujan juga berfungsi dengan baik dalam membedakan kondisi kering, hujan ringan, dan hujan lebat berdasarkan pembacaan ADC.Uji selama tiga hari menunjukkan bahwa sistem mampu mendeteksi perubahan kondisi lingkungan dan mengaktifkan pompa air secara otomatis ketika kelembaban tanah turun di bawah ambang batas 50%.Sistem ini terbukti efektif dalam menjaga kelembaban tanah pada tingkat optimal dan meningkatkan efisiensi penggunaan air selama budidaya porang.Data lingkungan juga dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi Blynk, sehingga sistem ini sangat cocok diterapkan dalam konsep pertanian cerdas, khususnya untuk berbagai jenis lahan dengan kebutuhan irigasi yang spesifik.Meskipun kinerjanya menjanjikan, sistem ini masih memiliki beberapa keterbatasan, termasuk ketergantungan pada implementasi single-node dan potensi variabilitas pengukuran di bawah kondisi lapangan yang dinamis.Pekerjaan masa depan akan fokus pada perluasan sistem menjadi arsitektur multi-node dan integrasi analitik data cerdas atau kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengambilan keputusan dan efisiensi irigasi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: 1. Pengembangan sistem multi-node: perluasan sistem menjadi arsitektur multi-node akan memungkinkan pemantauan dan kendali yang lebih luas di area pertanian yang lebih besar. Dengan menggunakan node-node tambahan, sistem dapat mengumpulkan data dari berbagai lokasi dan mengendalikan irigasi secara lebih terpusat. 2. Integrasi analitik data cerdas atau kecerdasan buatan: dengan mengintegrasikan analitik data cerdas atau kecerdasan buatan, sistem dapat menganalisis data lingkungan secara lebih canggih dan mengambil keputusan yang lebih cerdas mengenai waktu dan jumlah irigasi yang diperlukan. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pertumbuhan tanaman. 3. Pengujian dan validasi di berbagai kondisi lingkungan: meskipun sistem telah diuji di bawah berbagai kondisi, pengujian lebih lanjut di berbagai lokasi dengan kondisi lingkungan yang berbeda akan membantu memvalidasi kinerja dan keandalan sistem. Hal ini akan memastikan bahwa sistem dapat diterapkan secara luas di berbagai wilayah dengan kondisi lingkungan yang beragam.

  1. Internet of Things Smart Agriculture on ZigBee: A Systematic Review | InComTech : Jurnal Telekomunikasi... doi.org/10.22441/incomtech.v8i1.2146Internet of Things Smart Agriculture on ZigBee A Systematic Review InComTech Jurnal Telekomunikasi doi 10 22441 incomtech v8i1 2146
  2. Calibration of Low-Cost Capacitive Soil Moisture Sensors for Irrigation Management Applications. calibration... doi.org/10.3390/s25020343Calibration of Low Cost Capacitive Soil Moisture Sensors for Irrigation Management Applications calibration doi 10 3390 s25020343
Read online
File size1.33 MB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test