STIK SAMSTIK SAM

Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan KesehatanJurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan

Asma adalah penyakit heterogen yang ditandai dengan adanya peradangan saluran nafas kronis dan biaya terkait asma sangat tinggi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui analisa biaya dan mengevaluasi perbedaan biaya riil dengan tarid INA-CBGs, dan evaluasi rasionalitas pengobatan eksaserbasi asma pada pasien asma. Jenis penelitian adalah retrospektif dengan melihat data rekam medis pasien serangan asma di RSU Anwar Medika Sidoarjo, periode Januari 2020-Desember 2022. Variabel penelitian ini adalah biaya riil dan tarid INA-CBGs, dan kejadian drug-related problems (DRPs) data pengobatan pasien selama di rumah sakit. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara melakukan pengamatan pada data rekam medis dan rincian biaya pengobatan. Analisa data menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan biaya riil dan tarid INA-CBGs. Analisa pengobatan rasional dengan MTO disajikan secara deskriptif. Jumlah responden sebanyak 108, dengan tingkat asma ringan (85,19%) dan berat (14,81%). Bahwa biaya langsung tertinggi dikeluarkan untuk biaya kamar akomodasi dan biaya laboratorium. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan data bahwa nilai p sebesar 0,096 lebih besar dibandingkan dengan nilai alpha 0,05, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan biaya riil dibandingkan dengan tarid INA-CBGs pada pasien asma. Pasien yang mengalami MTO sebanyak 63 sampel (51,21%) yang mengalami DRP dan 60 sampel (48,78%) tidak mengalami DRP sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase kejadian DRP masih tinggi. Keseluruhan kejadian DRP yang terjadi sebanyak 182 kasus, dan jenis DRP yang paling banyak terjadi adalah obat tidak diperlukan sebanyak 179 kasus (98,35%) dan efek obat tidak optimal sebanyak 3 kasus (1,65%).

Analisis biaya langsung pada pengobatan eksaserbasi asma di RSU Anwar Medika menunjukkan bahwa biaya kamar akomodasi dan laboratorium merupakan komponen terbesar, sementara tidak terdapat perbedaan signifikan antara biaya riil dan tarif INA‑CBGs (p = 0,096 > 0,05).Sebanyak 51,21 % pasien mengalami drug‑related problems (DRP), dengan mayoritas DRP berupa obat yang tidak diperlukan (98,35 %).Oleh karena itu, meskipun biaya utama teridentifikasi, tingginya kejadian DRP menandakan perlunya perbaikan rasionalitas terapi.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas penerapan sistem pendukung keputusan klinis berbasis elektronik untuk mengurangi kejadian drug‑related problems (DRP) pada pasien asma rawat inap, dengan membandingkan frekuensi DRP sebelum dan sesudah implementasi. Selanjutnya, diperlukan studi analisis cost‑effectiveness yang membandingkan regimen obat tradisional dengan alternatif terapi yang lebih sederhana, untuk menilai apakah pengurangan penggunaan obat yang tidak diperlukan dapat menurunkan biaya total perawatan tanpa mengurangi kualitas klinis. Akhirnya, sebuah studi prospektif multisentra yang mencakup rumah sakit berbeda di wilayah Indonesia dapat mengevaluasi variasi insiden DRP dan faktor‑faktor kontekstual yang mempengaruhi, sehingga hasilnya dapat dijadikan dasar kebijakan nasional dalam meningkatkan rasionalitas pengobatan asma.

  1. ANALISIS BIAYA DAN RASIONALITAS PENGOBATAN EKSASERBASI ASMA PASIEN RAWAT INAP | Jurnal Ilmiah Manuntung:... jurnal.stiksam.ac.id/index.php/jim/article/view/774ANALISIS BIAYA DAN RASIONALITAS PENGOBATAN EKSASERBASI ASMA PASIEN RAWAT INAP Jurnal Ilmiah Manuntung jurnal stiksam ac index php jim article view 774
Read online
File size380.18 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test