STT SUSTT SU

Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan KristenImmanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen

Fenomena budaya YOLO (You Only Live Once) mencerminkan cara berpikir generasi muda yang menekankan kebebasan dan memprioritaskan kenikmatan sementara. Sehingga memunculkan kecemasan akibat kehilangan arah hidup yang diperkuat oleh dominasi teknologi internet, media sosial dan budaya digital. Gereja dan pendidikan Kristen menghadapi tantangan besar untuk menafsirkan ulang nilai hidup di tengah generasi yang haus makna, namun terjebak dalam siklus kepuasan sesaat. Fenomena di kalangan muda menunjukkan perlunya refleksi teologis terhadap nilai Carpe Diem dalam terang iman Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemahaman YOLO melalui pembacaan hermeneutik terhadap Pengkhotbah 11:9 agar ditemukan kembali makna spiritual dalam kebebasan hidup.

Fenomena YOLO dalam budaya digital mencerminkan krisis eksistensial generasi muda yang kehilangan orientasi spiritual.Prinsip You Only Live Once yang menekankan kebebasan tanpa batas dan pencarian kenikmatan instan telah menjerumuskan banyak anak muda ke dalam gaya hidup hedonistik dan performatif, yang berfokus pada pencitraan diri daripada kedalaman makna hidup.9 menjadi penting untuk menata ulang pemahaman tentang kebebasan dan sukacita dalam terang iman.Seruan bersukacitalah dalam masa mudamu bukanlah pembenaran terhadap kesenangan duniawi yang tanpa batas, melainkan undangan untuk menikmati hidup sebagai anugerah Allah yang harus dijalani dengan tanggung jawab moral dan spiritual.Konsep Carpe Diem dalam perspektif teologi dan psikologi pendidikan gereja dapat menjadi antitesis yang membangun terhadap budaya YOLO.Carpe Diem bukan sekadar ajakan menikmati hidup, melainkan panggilan untuk menghargai setiap hari sebagai kesempatan rohani untuk bertumbuh, melayani, dan bersyukur.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan studi yang menyelidiki dampak budaya YOLO pada kesehatan mental generasi muda, khususnya dalam konteks digital. Penelitian ini dapat mengeksplorasi hubungan antara penggunaan media sosial, perilaku konsumtif, dan kecemasan eksistensial. Selain itu, penelitian kualitatif yang mendalam dapat dilakukan untuk memahami pengalaman spiritual generasi muda dalam menghadapi krisis makna hidup. Studi ini dapat mengungkap bagaimana generasi muda menemukan makna dan tujuan hidup dalam terang iman Kristen. Terakhir, penelitian yang berfokus pada pengembangan pendidikan iman yang relevan dengan generasi digital dapat diusulkan. Penelitian ini dapat mengeksplorasi strategi pendidikan yang efektif dalam membentuk spiritualitas reflektif, ketahanan rohani, dan kebijaksanaan digital bagi generasi muda masa kini.

  1. Carpe Diem: Filosofi Memetik Momentum “Hari Ini” | Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan.... doi.org/10.70508/literaksi.v1i01.310Carpe Diem Filosofi Memetik Momentum AuHari IniAy Literaksi Jurnal Manajemen Pendidikan doi 10 70508 literaksi v1i01 310
  2. Providensia Allah dalam Perspektif Nasihat Gamaliel: Kajian Teologis-Eksegetis | Pandandari | Immanuel:... doi.org/10.46305/im.v6i2.500Providensia Allah dalam Perspektif Nasihat Gamaliel Kajian Teologis Eksegetis Pandandari Immanuel doi 10 46305 im v6i2 500
Read online
File size680.45 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test