LIFESCIFILIFESCIFI

Arthatama: Journal of Business Management and AccountingArthatama: Journal of Business Management and Accounting

Pada era digital, di mana tuntutan kerja semakin dinamis dan batas antara kehidupan profesional dan pribadi semakin kabur, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan (work-life balance, WLB) telah menjadi isu sentral dalam manajemen sumber daya manusia. Penelitian sistematis oleh Thilagavathy dan Geetha (2023) mengungkapkan bahwa menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan tidak hanya menyebabkan stres kronis, tetapi juga mengurangi produktivitas hingga 40% di sektor korporasi. Fenomena ini semakin kompleks dengan masuknya Generasi Z ke dunia kerja, di mana kelompok ini menempatkan kenyamanan psikologis dan kesejahteraan sebagai prioritas utama. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan telah menjadi batu penjuru manajemen sumber daya manusia modern, mencerminkan tuntutan yang berkembang dari tenaga kerja yang semakin memprioritaskan fleksibilitas dan kesejahteraan (Opatrná & Procházka, 2023). Di era pasca-pandemi, organisasi di seluruh dunia telah meredefinisi norma tempat kerja, dengan kerja jarak jauh dan model hibrida menjadi umum (Sutanto et al., 2024). Meskipun pergeseran ini memberikan karyawan otonomi yang lebih besar, tetapi juga semakin menghapus garis pemisah antara kehidupan kerja dan pribadi, sehingga semakin intensifnya kebutuhan akan strategi WLB yang efektif (Alfano et al., 2024). Interaksi antara WLB, keterlibatan karyawan, dan kinerja telah mendapatkan perhatian akademis yang signifikan, terutama karena organisasi berusaha untuk menyelaraskan kesejahteraan karyawan dengan hasil organisasi (Suárez-Amaya et al., 2024).

Ulasan literatur ini telah menyintesiskan temuan terbaru (2020-2025) untuk mengungkapkan bagaimana WLB mendorong keterlibatan dan hasil.Ulasan ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme pengaruh WLB pada keterlibatan karyawan dan menganalisis mekanisme pengaruh WLB pada kinerja karyawan.Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa WLB memainkan peran penting sebagai mediator antara dukungan organisasi dan keterlibatan karyawan, serta berkontribusi langsung pada peningkatan kinerja karyawan, yang diukur melalui kualitas, ketepatan waktu, dan kepuasan atasan.Hasil ini menekankan bahwa kebijakan WLB yang efektif tidak hanya meningkatkan kesejahteraan karyawan, tetapi juga mendukung produktivitas dan kesuksesan organisasi secara keseluruhan.Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan pentingnya pengaturan kerja yang fleksibel, dukungan organisasi, dan penggunaan bijak teknologi untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diakui.Pertama, banyak studi yang ditinjau menggunakan desain cross-sectional, yang membatasi kemampuan untuk menarik kesimpulan kausal tentang dampak jangka panjang kebijakan WLB terhadap keterlibatan dan kinerja karyawan.Kedua, terdapat bias geografis dan budaya, karena sebagian besar artikel berfokus pada konteks Barat.Oleh karena itu, temuan mungkin kurang berlaku untuk negara-negara di Asia atau Afrika, yang memiliki dinamika sosial dan budaya yang berbeda.Selain itu, hampir semua data yang digunakan didasarkan pada laporan diri, yang dapat memperkenalkan bias persepsi dan varians metode umum, terutama saat mengukur variabel subjektif seperti keterlibatan dan konflik kerja-keluarga.Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk melakukan studi longitudinal untuk mengamati efek jangka panjang WLB dan menggunakan pendekatan multilevel untuk memahami variasi pengalaman di berbagai tingkat pekerjaan.Studi perbandingan lintas budaya dan lintas sektoral juga sangat penting untuk mengidentifikasi efektivitas kebijakan WLB dalam konteks yang lebih luas, terutama di negara-negara dengan nilai kolektivis yang tinggi.Selain itu, mengintegrasikan data objektif, seperti indikator kinerja aktual atau data biometrik, dapat melengkapi data survei dan membantu mengurangi bias potensial.Studi masa depan juga harus mengeksplorasi peran teknologi, termasuk bagaimana penggunaan AI dalam penjadwalan kerja mempengaruhi persepsi WLB, dan mempertimbangkan faktor-faktor interseksional seperti jenis kelamin, status keluarga, dan tingkat pendapatan saat mengevaluasi kesuksesan kebijakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi longitudinal yang menyelidiki efek jangka panjang kebijakan WLB terhadap keterlibatan dan kinerja karyawan. Selain itu, penelitian multilevel dapat dilakukan untuk memahami variasi pengalaman WLB di berbagai tingkat pekerjaan. Studi perbandingan lintas budaya dan lintas sektoral juga penting untuk mengidentifikasi efektivitas kebijakan WLB dalam konteks yang lebih luas, terutama di negara-negara dengan nilai kolektivis yang tinggi. Selain itu, penelitian dapat mengintegrasikan data objektif, seperti indikator kinerja aktual atau data biometrik, untuk melengkapi data survei dan mengurangi bias potensial. Penelitian masa depan juga dapat mengeksplorasi peran teknologi, termasuk bagaimana penggunaan AI dalam penjadwalan kerja mempengaruhi persepsi WLB, serta mempertimbangkan faktor-faktor interseksional seperti jenis kelamin, status keluarga, dan tingkat pendapatan saat mengevaluasi kesuksesan kebijakan WLB.

Read online
File size329.13 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test